Dari 264 Juta Penduduk Indonesia, Petani Hanya Tinggal 4 Juta Orang

“Penurunan pekerja sektor pertanian ini berpotensi memengaruhi produksi komoditas pangan nasional,” jelas peneliti CIPS, Muhammad Diheim Biru.

BERITA | NASIONAL

Senin, 27 Mei 2019 19:57 WIB

Author

Adi Ahdiat

Dari 264 Juta Penduduk Indonesia, Petani Hanya Tinggal 4 Juta Orang

Buruh tani menanam padi di sawah Desa Majakerta, Indramayu, Jawa Barat (21/5/2019). Petani di daerah tersebut mengaku kesulitan mencari anak muda yang mau bekerja di bidang pertanian. (Foto: ANTARA/Dedhez Anggara/ama)

KBR, Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Muhammad Diheim Biru, menyebut kini jumlah petani hanya tinggal sekitar 4 juta orang.

Angka itu ia peroleh dari laporan angkatan kerja nasional yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) 2018.

Jumlah 4 juta jelas sangat kecil dibanding seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 264 juta orang.

Menurut data BPS yang dikutip Diheim, jumlah petani kini juga ada di level terendahnya dalam sepuluh tahun terakhir.

“Penurunan pekerja sektor pertanian ini berpotensi memengaruhi produksi komoditas pangan nasional,” jelas Diheim dalam rilisan pers, Jumat (24/5/2019).

Menurut Diheim, jumlah petani yang sangat minim memunculkan kekhawatiran bahwa produksi pangan tidak akan bisa mencukupi kebutuhan pasar.

“Kesenjangan antara jumlah produksi dengan jumlah permintaan inilah salah satunya yang menyebabkan tingginya harga komoditas pangan,” tambah Diheim.

CIPS juga menegaskan, berkurangnya pekerja di sektor pertanian perlu menjadi evaluasi pemerintah.


Petani Berkurang Akibat Tren Urbanisasi

Diheim menilai, turunnya jumlah petani salah satunya disebabkan oleh tren urbanisasi.

Urbanisasi ke Jakarta, misalnya. Menurut laporan Proyeksi Penduduk Indonesia 2010 – 2035 yang dirilis Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan BPS, sejak tahun 2010 lalu gelombang urbanisasi ke Jakarta sudah mencapai 100 persen, atau sudah mencapai batas daya tampung kota.

Menurut Diheim, urbanisasi banyak dilakukan kalangan muda dari pedesaan yang ingin memperbaiki taraf ekonomi mereka.

“Generasi muda yang tumbuh di pedesaan, khususnya mereka yang mendapatkan pendidikan sekolah secara formal, cenderung ingin mengejar pekerjaan yang berpotensi memberikan banyak penghasilan secara cepat, yang biasanya berasal di daerah perkotaan,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan lapangan kerja di kota membuat kalangan muda pedesaan tidak tertarik menjadi petani.

“Ketidaktertarikan mereka pada pekerjaan seperti bertani yang digeluti orang tua mereka di antaranya disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengembangkan diri dan tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka,” tulisnya.


Swasta Perlu Ikut Membangun Pertanian

Diheim berpandangan bahwa demi menjaga kestabilan produksi pangan, perlu ada sistem yang bisa menekan urbanisasi dan menopang sektor pertanian.

“Laju urbanisasi sebaiknya ditekan melalui penggunaan teknologi pertanian yang lebih efisien, seperti penggunaan benih berkualitas baik dan alat pertanian terkini,” jelasnya.

Ia menyebut pihak swasta perlu ikut berperan membangun sektor pertanian, baik dari segi manajemen rantai pasokan dan distribusi pangan, maupun dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Diheim pun berharap profesi petani bisa mendapat jaringan pasar yang lebih banyak dan penghasilan yang lebih besar.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kala Berbahasa Indonesia Mesti Diatur dalam Perpres

Kabar Baru Jam 10

Basarnas Jabar Targetkan Nol Persen Kecelakaan Laut Pada 2020