Antisipasi Rusuh, BIN Imbau Pengamanan Berlapis

“Potensi serangan di situ kan karena masih banyak juga yang belum tertangkap nah ini masih potensi untuk melakukan serangan,"

BERITA | NASIONAL | NUSANTARA

Senin, 20 Mei 2019 09:48 WIB

Author

Astri Septiani

Antisipasi Rusuh, BIN Imbau Pengamanan Berlapis

Antisipasi demo 22 Mei, polisi razia penyekatan di jembatan Suramadu, Jatim, Minggu (19/05). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta -  Juru bicara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto mengingatkan, harus ada upaya pengamanan maksimal dari aparat, untuk mengawal pengumuman hasil Pemilu 2019, pada Rabu, 22 Mei.  Alasannya, kata Wawan, di tengah kerumunan massa pengunjuk rasa, kewaspadaan masyarakat cenderung lebih rendah, sementara di sisi lain, justru ada potensi terjadi aksi teror di sana. 

Wawan mengatakan, penangkapan puluhan terduga teroris, terutama pada Mei ini, dibarengi dengan penyelidikan terduga lainnya, amat sangat efektif untuk mengantisipasi sejak dini potensi serangan dari kelompok teroris.

Tapi, Wawan tetap meminta, aparat keamanan dan masyarakat, terutama yang hendak melakukan aksi unjuk rasa 22 Mei, untuk senantiasa waspada dan menjaga kondusifitas sehingga kemungkinan teroris menyelinap di kerumunan massa, lalu kemudian melakukan aksi terornya, dapat dihindari.

“Potensi serangan di situ kan karena masih banyak juga yang belum tertangkap nah ini masih potensi untuk melakukan serangan. Di situlah upaya untuk mencegat, mempersempit gerak dan juga terus melakukan upaya-upaya penyelidikan siapa-siapa saja  pengikut-pengikut mereka yang belum tertangkap. Ini kan butuh waktu. Semua elemen harus menjaga kondusifitas,” kata Wawan kepada KBR, Minggu (19/5).

Selain berharap aparat keamanan melakukan pencegahan dan deteksi dini terhadap aksi teror, Wawan juga mengimbau seluruh kelompok aksi unjuk rasa, untuk aktif melaporkan kepada aparat, bila terdapat hal-hal mencurigakan, seperti misalnya ada penyusupan, anarkisme dan lainnya.

Wawan juga menekankan pentingnya melakukan pemetaan. Tujuannya untuk mengantisipasi segala kemungkinan termasuk aksi teror pada Rabu, 22 Mei nanti.

"Perlu ada pengawalan berlapis agar supaya demo tak berubah jadi kekacauan. Kita terus melakukan upaya upaya pengamanan maksimal," ujar pria kelahiran 10 November 1965 ini.

Video Pengakuan Teroris

Sebelumnya, JAD terdeteksi berencana melakukan aksi teror pada 22 Mei. Juru bicara Mabes Polri Muhammad Iqbal mengatakan, aksi demonstrasi penolakan hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019, dijadikan tunggangan kelompok terorisme untuk menciptakan situasi konflik.

Keyakinan itu disimpulkan Mabes Polri, menyusul pengakuan sejumlah terduga terorisme JAD yang berhasil diringkus  tim anti-teror Mabes Polri, Densus 88 sepanjang Mei 2019. "Mereka sudah merencanakan aksi amaliah atau aksi teror, dengan menyerang kerumunan masyarakat saat 22 Mei nanti, dengan meledakkan bom," kata Iqbal saat konferensi pers di Divisi Humas Polri, Jakarta, Jumat (17/5).

Konferensi pers juga menayangkan video testimoni salah seorang terduga teroris berinisial "DY", yang berencana melakukan aksi teror, pada 22 Mei 2019.

"Saya DY alias J alias B, memimpin beberapa ikhwan untuk melakukan amaliah pada 22 Mei 2019, dengan menggunakan remote. Pada tanggal tersebut akan ada kerumunan massa. Event yang bagus menurut saya untuk melakukan amaliah. Karena pesta demokrasi itu syirik akbar yang membatalkan keislaman," tutur DY dalam video itu.

Editor: Fadli Gaper 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kala Berbahasa Indonesia Mesti Diatur dalam Perpres

Kabar Baru Jam 10

Basarnas Jabar Targetkan Nol Persen Kecelakaan Laut Pada 2020