Stres di Masa Pandemi? Coba Meditasi atau Konseling

Hidup sulit di tengah pandemi Covid-19 berpotensi mengganggu kesehatan mental

BERITA | NASIONAL

Rabu, 01 Apr 2020 01:43 WIB

Author

Wydia Angga, Ninik Yuniati

Stres di Masa Pandemi? Coba Meditasi atau Konseling

Salah satu latihan meditasi Komunitas Tergar Indonesia. Foto: Facebook Tergar Indonesia

KBR, Jakarta - Wabah Covid-19 memunculkan horor baru di masyarakat. Banjir informasi tentang Corona bisa menimbulkan kecemasan berlebih. Apalagi ada imbauan diam di rumah yang membuat banyak orang tak leluasa mencari penangkal stres. 

Beberapa kalangan menawarkan layanan yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan mental, mulai dari meditasi hingga konseling. Semuanya dikemas secara daring atau online.

Bagi yang tertarik mencari ketenangan batin lewat meditasi, Komunitas Tergar Indonesia membuka latihan dua kali sepekan, Selasa dan Kamis malam. 

Ketua Komunitas Tergar Indonesia Linda Widjaja mengatakan meditasi bisa membantu orang menemukan ketenangan yang dibutuhkan di masa-masa sulit seperti sekarang. Kondisi mental itu bisa dicapai melalui latihan rutin. 

"Meditasi ini adalah semacam pengolahan, latihan mental atau batin kita. Sama seperti kalau kita ingin sehat atau membentuk raga, maka harus ke gym untuk melatihnya. Demikian juga dengan meditasi," kata Linda.

Linda mengakui meditasi via daring tetap memiliki kelemahan. Para peserta tidak leluasa berinteraksi dengan pembimbing selama sesi. 

Namun, bagi peserta seperti Diella Dachland, metode latihan jarak jauh yang saat ini dilakukan, tetap menyenangkan. Ia beralasan jumlah peserta yang ikut jadi lebih banyak.

"Bagi saya sih seru. Kalau di sesi offline ada keterbatasan ruang misalnya 40-100 orang. Tapi sudah dua kali ikut sesi online, ternyata bisa sampai 400 orang dan dari mana-mana," ujar Diella.

Diella rutin melakukan meditasi sendiri di rumah, walau durasinya pendek. Ia bilang meditasi bermanfaat membantunya mengelola emosi dan pikiran di tengah teror Covid-19. 

"Saya tidak berusaha menolak rasa takut itu. Tidak berusaha dibuat positif-positif 'oh, tidak apa-apa', tidak seperti itu. Tidak juga diabaikan. Saya hanya mengenali rasa takut itu sebagai rasa takut. Dan membiarkan berapa lama rasa takut itu datang, tinggal dan pergi," tuturnya. 

Bimbingan konseling

Kecemasan dan stres menghadapi ancaman Covid-19 nyata dialami sebagian orang. Setidaknya kesimpulan itulah yang terangkum dari hasil konseling daring yang difasilitasi Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (APKI). 

APKI merupakan bagian dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang juga memberikan layanan serupa. 

Terhitung sejak 26 Maret lalu, APKI membuka layanan konsultasi melalui aplikasi WhatsApp. Ketua APKI Eunike Sri Tyas Suci mengatakan, tiap klien mendapat konseling dari satu psikolog pendamping selama sekitar satu jam. Klien bebas memilih metode interaksinya, bisa via chat, video atau layanan call di WhatsApp. 

"Itu tergantung kesepakatan klien dan psikolog yang melayani. Karena biasanya, klien merasa enggan untuk video call. Situasinya sedang chaos, dirundung masalah, tidak ingin identitasnya diketahui. Rata-rata menggunakan layanan call dan teks," jelas Tyas.

APKI sudah melayani konseling puluhan klien. Mayoritas berasal dari wilayah zona merah Covid-19 Jabodetabek. Rata-rata mereka dilanda kecemasan berlebih akibat dibombardir informasi tentang Covid-19. 

"Rupanya ada yang memang pada dasarnya klien pencemas. Kecemasannya makin parah dengan adanya berita-berita Covid ini, sampai tidak bisa tidur. Ada yang hanya bisa tidur satu dua jam, sehingga harus menelan obat tidur," kisah Tyas.

Menurutnya, imbauan diam di rumah dalam jangka waktu lama, juga berpeluang besar memicu stres bahkan memunculkan konflik baru. 

"Kalau rumahnya menyenangkan mungkin kurang stresnya. Tapi kalau relasi anggota keluarga tidak harmonis, ini bahkan bisa menimbulkan konflik. Kemudian stres karena tidak bisa keluar rumah, merasa sumpek dan terkurung," kata dosen psikologi di Universitas Katolik Atma Jaya ini.

Ada pula klien yang putus asa karena himpitan ekonomi. Wabah Corona melumpuhkan ekonomi sehingga melahirkan banyak pengangguran. 

"Tambah lagi sekarang situasi Covid ini, dia (klien) tidak bisa mencari pekerjaan sama sekali dan harus berada di dalam rumah. Padahal di rumah itu dia harus menanggung beban ekonomi keluarga. Klien sempat terpikir untuk bunuh diri. Ini cukup serius," ungkap Tyas.

Berdasarkan kasus-kasus sementara yang masuk, Tyas menyarankan warga yang rentan mengalami stres, untuk membatasi sementara konsumsi informasi. Ia mendorong mereka mengisi waktu luang dengan kegiatan yang konstruktif.

"Membuka dan membaca informasi pada jam-jam tertentu saja. Misalnya pagi satu jam, sore satu jam sehingga di luar itu kita bisa beraktivitas secara positif. Atau bahkan sederhananya melakukan hobi-hobi yang selama ini tidak pernah terealisasikan," saran Tyas. 

Kepada pemerintah, Tyas mendesak adanya kejelasan penanganan Covid-19. Simpang siur informasi selama ini menjadi sumber kecemasan warga. 

"Seringkali penanganan ini agak membingungkan baik klien maupun psikolog yang terjun di lapangan karena melihat koordinasinya belum optimal. Juga saran kami segera memberikan informasi tentang bagaimana bansos untuk orang miskin, pengangguran, kelompok disabilitas dan mereka yang terpinggirkan," pungkas Tyas. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Persiapan Pemerintah Hadapi New Normal

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14