Relawan Covid-19 Ini Rela Tak Lebaran di Kampung Halaman

Relawan medis maupun non-medis direkrut untuk membantu penanganan Covid-19

BERITA | NASIONAL

Senin, 27 Apr 2020 02:37 WIB

Author

Valda Kustarini, Ninik Yuniati

Relawan Covid-19 Ini Rela Tak Lebaran di Kampung Halaman

Javas Rizqi Ramadhan saat bertugas sebagai relawan Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia. Foto: Humas UI

KBR, Jakarta - Javas Rizqi Ramadhan rela tak mudik ke kampung halamannya di Subang, Jawa Barat saat lebaran nanti. Ia memilih mendermakan tenaga dan waktunya sebagai relawan Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).

"Saya sudah minta izin ke orang tua untuk ikut relawan ini yang memungkinkan saya untuk tidak balik atau tidak pulang kampung. Orang tua saya sudah setuju ditambah dari pemerintah sendiri kebijakannya melarang mudik," kata Javas saat dihubungi KBR. 

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UI ini tercatat bergabung sebagai relawan non-medis sejak 1 April 2020. Awalnya, ia mendaftar karena ingin membunuh rasa bosan karena adanya pembatasan sosial. Hal itu makin diperkuat dengan banyaknya informasi tentang kurangnya tenaga medis di garda terdepan Covid-19.

"Kita harus di rumah dan nggak boleh keluar-keluar. Saat itu saya tinggal di asrama. Terus bosan dan dapat info soal pembukaan pendaftaran relawan di RSUI. Nggak tahu tertarik aja, tiba-tiba merasa terpanggil," ungkap pria berusia 21 tahun ini. 

Di RSUI, Javas bertugas sebagai asisten perawat (health care assistant). Ia membantu pekerjaan petugas kesehatan yang menangani pasien Covid-19. Jam kerjanya sekitar 7 jam per hari selama 4 sampai 5 hari. 

"Kita bantu mengambil resep obat dari ruangan isolasi ke unit farmasi. Kita juga bantu mengantar sampel daerah ke laboratorium. Kita juga membantu menyiapkan alat pelindung diri. Unit saya juga bertugas membersihkan (APD) seperti sepatu boots, helm pelindung muka dan kacamata goggle dengan cairan disinfektan," kisahnya.

Saat pertama kali bertugas, Javas sempat kerepotan membagi waktu antara kuliah dan menjadi relawan. Apalagi, ia masuk jadwal jaga sore hingga malam mulai pukul 14.00 hingga 21.00 WIB. Lambat laun, Javas mulai beradaptasi.

"Di awal saya cukup keteteran karena di kampus juga masih ada kuliah online. Masih ada tugas-tugas. Sementara menjadi relawan juga cukup menyita waktu. Sekarang sudah cukup beradaptasi," tutur Javas.

Mahasiswa angkatan 2017 ini bangga menjadi bagian dari relawan garda terdepan Covid-19. Baginya, pengalaman tak terlupakan adalah saat mengenakan baju APD lengkap di ruang isolasi. 

"Jadi ketika kita masuk ke dalam ruang isolasi, kita wajib menggunakan APD lengkap, mulai dari atas ujung kepala sampai ujung kaki. Itu hal yang akan sangat jarang saya dapatkan," kata dia. 

Javas tak terlalu risau dengan risiko tertular virus Corona. Menurunya, RSUI sudah memiliki prosedur ketat pencegahan dan perlindungan diri. Para relawan juga tinggal di penginapan khusus yang difasilitasi rumah sakit. 

"Setelah dinas, saya menyempatkan untuk mandi dulu di RS. Kalau misalkan tidak, saya balik ke penginapan kemudian langsung mandi. Jadi memang ada SOP khusus. Kita juga pakai baju khusus ketika bertugas. Tiap hari baju-baju itu dicuci. Memang soal kebersihan sangat strict," ujarnya. 

Relawan medis perempuan pembawa ambulans

Ika Dewi Maharani juga relawan yang ditempatkan di RSUI. Ika memiliki keterampilan medis sebagai mahasiswa tingkat akhir sekolah keperawatan di Surabaya. Namun, ia ditugaskan menjadi sopir ambulans gawat darurat lantaran cakap menyetir mobil. 

"Awalnya kan untuk relawan dibutuhkan perawat ambulan. Dengan keahlian yang saya miliki, saya bisa menyetir, saya basic perawat. Jadi sesuai panggilan hati. Banyak ambulans dari AGD 118, itu mereka kurang untuk orang," ungkap Ika saat konferensi pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (17/4/2020).

Ika menjadi satu-satunya relawan medis perempuan yang berada di belakang kemudi ambulans Covid-19. Perempuan 26 tahun ini merasakan banyak pengalaman baru saat di lapangan.

"Untuk (bawa) ambulans baru pertama kali dalam hidup saya. Ternyata di ambulans tidak semudah yang kita bayangkan. Kita sudah membunyikan sirine, kadang orang-orang di sekitar kita tidak peka untuk memberi jalan buat kita, karena kita mengangkut pasien," ujar warga Maluku Utara ini. 

Ika sadar dirinya rentan terpapar virus Corona karena sering kontak dengan pasien. Namun, ia mengantisipasi risiko itu dengan disiplin menjalankan prosedur perlindungan diri.

"Rasa takut ada pasti cuma ini adalah tugas bagi kita sebagai relawan medis. Kita harus menangani pasien dari awal sampai akhir. Pertama, kita harus APD lengkap, safety, safety, safety. Kalau nggak safety kita nggak berangkat. Kedua, makan teratur, tidur yang cukup,” jelas Ika. 

Ika berjuang maksimal untuk membantu penanganan Covid-19. Ia berharap wabah ini segera berlalu.

"Dengan mengabdikan diri sebagai relawan, kita harap penanggulangannya ini semakin cepat jadi bencana ini cepat akan berakhir," pungkas Ika. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Memotret Realitas Pekerja Migran lewat Dokumenter

Soal Cegah Arus Balik

Kabar Baru Jam 10