Ibadah Minggu di Rumah Dibubarkan Warga, Begini Ceritanya..

Ibadah minggu yang sudah dilakukan selama enam minggu itu tiba-tiba didatangi seseorang yang mengaku pemuka agama, ditemani Ketua RT setempat.

BERITA | NASIONAL

Senin, 20 Apr 2020 20:17 WIB

Author

Heru Haetami

Ibadah Minggu di Rumah Dibubarkan Warga, Begini Ceritanya..

Polisi mendatangi kediaman Julio Sebastian untuk mendamaikan pelarangan ibadah minggu di rumah. (Foto: Twitter/@batak_com)

KBR, Jakarta- Warga Kecamatan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Julio Sebastian tak menyangka kegiatan ibadah di rumah, sebagaimana anjuran pemerintah saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), berujung permintaan pembubaran.

Ibadah minggu yang sudah dilakukan selama enam minggu itu tiba-tiba didatangi seseorang yang mengaku pemuka agama, ditemani Ketua RT setempat.

Julio menyebut, tak hanya meminta membubarkan ibadah yang tengah berlangsung, pelaku juga mengeluarkan perkataan rasis kepada orang tuanya.

“Kejadian itu bermula memang waktu kita lagi ibadah. Kebetulan mau selesai kotbah, di situ tiba-tiba datang dua orang itu pak RT dan pak haji ke rumah. Awalnya gak ngomong, saya lihat dia ngomong di video mana si batak? Ngapain beribadah di sini? Saya bilang ini biasa, kata dia tetep gak boleh,” kata Julio sambil menirukan nada pelaku kepada KBR, Senin (20/4/2020).

Julio mengungkapkan kejadian ini kali kedua setelah 14 tahun yang lalu. 

Kejadian pertama itu, saat ia dan keluarganya mengadakan ibadah syukuran mengisi rumah baru.

Menurutnya, kejadian itu bahkan membuat ia dan keluarganya merasa mendapat teror berminggu lantaran rumah mereka sering dilempari batu oleh sekelompok orang.

“Saat itu kita syukuran rumah baru. Setelah kejadian yang pertama itu selama satu bulan rumah sering diteror, dilemparin batu terus selama satu bulan,” katanya.

Dari kejadian tersebut, Julio menduga adanya perilaku intoleran di lingkungan rumah dirinya tinggal.

Julio juga membantah pernyataan kepolisian yang mengatakan pembubaran ibadah tersebut merupakan kesalahpahaman penerapan PSBB. 

Menurut Julio, kejadian yang dialami kedua kali oleh keluarganya itu menunjukan bahwa adanya sentimen agama yang dilakukan warga mayoritas terhadap kelompok minor. 

“Kami dengar informasi, komposisi orang-orang (yang melakukan pembubaran) masih sama seperti kejadian pertama,” ujarnya.

Saat ini sudah dilakukan mediasi antara keduabelah pihak. 

Julio menambahkan, sudah ada perjanjian untuk tidak ada lagi melarang beribadah di sekitar kediamannya.

Julio berharap perbuatan intoleran yang dialaminya dengan keluarga tidak terulang bagi agama dan kepercayaan manapun.

“Di luar sana supaya tetap menjaga toleransi beragama, apapun agamanya tetap hargain agama lain, bantu apapun yang bisa kita lakukan. Ketika kita menemukan intoleransi kita harus berani menyuarakan,” pungkasnya. 

 

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Efektifkah Mini Lockdown ala Jokowi Tekan Kasus Covid-19?