50 Ribu Reagen PCR dari Korea Selatan Tiba

"Agar laboratorium bisa segera bekerja memeriksa warga. Kita bersyukur dalam waktu kurang dari 24 jam kita bisa mendapatkan 50.000 tes PCR"

BERITA | NASIONAL

Senin, 20 Apr 2020 11:11 WIB

Author

Astri Yuanasari

50 Ribu Reagen PCR dari Korea Selatan Tiba

Alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk pemeriksaan terduga COVID-19 di Laboratorium Rumah Sakit USU Medan, Sumut, Kamis (16/4). (Antara/Septianda)

KBR, Jakarta- Sebanyak 50 ribu reagen tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang didatangkan dari Korea Selatan tiba di Indonesia pada Minggu (19/4). Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, tidak mudah untuk mendapatkan reagen PCR dan reagen ekstrasi RNA di tengah pandemi yang menerpa hampir seluruh negara. 

Kata dia, selama ini yang bisa menyediakan kedua bahan itu adalah Cina dan Korea Selatan, yang dicari juga oleh banyak negara lain.

"Kita membutuhkan bahan untuk melakukan tes PCR bagi deteksi COVID-19 agar laboratorium bisa segera bekerja memeriksa warga. Kita bersyukur dalam waktu kurang dari 24 jam kita bisa mendapatkan 50.000 tes PCR," kata Doni dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4/2020).

Saat ini, pemerintah sudah menetapkan 19 laboratorium untuk pendeteksian Covid-19 di seluruh Indonesia. Hanya saja semua laboratorium tersebut membutuhkan reagen PCR dan reagen ekstrasi RNA agar bisa melakukan pemeriksaan kepada warga yang diduga terpapar COVID-19.

Doni mengatakan, selain harus bersaing dengan banyak negara, proses membawa bahan kimia ini pun perlu penanganan khusus. Misalnya, suhu udara harus dijaga minus 20 derajat Celcius dan berat keseluruhan mencapai 500 kilogram.

Doni berterima kasih kepada Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan Umar Hadi, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, dan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra yang telah bekerja keras membantu mendatangkan bahan tes PCR untuk pendeteksian virus corona dari Korea Selatan ini.

Sebelumnya, presiden Joko Widodo sudah memerintahkan Gugus Tugas agar segera dilakukan tes PCR kepada warga, dan mengharapkan agar setidaknya bisa dilakukan 10.000 pemeriksaan setiap hari.

Desakan IDI 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendorong pemerintah meningkatkan kapasitas pemeriksaan spesimen Covid-19 di Indonesia. 

Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban mengatakan, kunci pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 adalah pengetesan massal dan menyeluruh. 

Menurutnya, saat ini pemeriksaan Covid-19, baik tes cepat atau rapid test, dan tes spesimen belum maksimal.

"Di Amerika itu yang udah dites tuh, 1.900.000 sekian, jadi hampir 2 juta, untuk penduduk yang 300 jutakan di Amerika. Untuk Korea dengan penduduk 50 juta, itu yang sudah dites 450.000. Jadi ya, kita kan 5 kalinya. Itung aja, jadi tetap aja. Artinya kita harus ngetes, kalau bisa di atas 1 juta," kata Zubairi kepada KBR, Rabu (8/4/2020).

Zubairi Djoerban mengatakan, Jakarta memerlukan sekitar 10 ribu tes Covid-19 per hari dan daerah sekitar Jakarta 5 ribu tes per hari. 

Ia berharap, alat tes Covid-19 dari Swiss dapat mempercepat, memperluas, dan memperbanyak kapasitas pemeriksaan di Indonesia.

"Jadi memang sebanyak mungkin, secepat mungkin, dan disusul dengan telusur kontak. Kemudian yang positif disolasi dan karantina. Itu memang salah satu syarat untuk mengatasi masalah Covid," kata Zubairi.

Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah mendatangkan 20 alat polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi virus Corona. 

Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan, ada dua jenis alat yang dibeli Kementerian BUMN, di antaranya ekstraktor otomatis RNA, dan 18 Light Cycler PCR detector.

Arya menyebut, ekstraktor bisa digunakan mengetes seribu spesimen dalam sehari. Sementara PCR detektor mampu mengetes 500 spesimen per harinya.

"Maka dengan alat ini, kalau sudah ter-install semua, maka alat tersebut akan bisa satu harinya mencapai 9 ribu sampai 10 ribu tiap hari, kita bisa mengetahui hasil tes. Jadi hasil tes ini disamping dari segi jumlah bisa mencapai 8 ribu sampai 10 ribu, juga kecepatan alat tesnya untuk mengetahui positif atau tidak, juga sangat tinggi. Nah, dengan ini maka kita harapkan, dalam sebulan kita akan mencapai hampir 300 ribu," kata Arya pada video converence, Rabu (8/4/2020).

Arya mengatakan, alat ini akan disebar secepatnya ke sejumlah provinsi di Indonesia. Di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua. 

Ia menyebut, dua hari yang lalu alat ini juga sudah dipasang di salah satu rumah sakit di Jakarta. 

Namun Arya tak menyebut nama rumah sakit yang dimaksud.

"Untuk yang di Jakarta mudah-mudahan minggu depan sudah bisa di-install karena ini secara teknikal membutuhkan sebuah proses pembangunan yang cukup harus terjaga," pungkasnya.

 

Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7