Siaga Perubahan Iklim, Negara Asia Pasifik Belajar Buat 'Padi Nuklir'

Di film, sinar radiasi gamma mengubah Bruce Banner jadi Hulk. Tapi di tangan BATAN, radiasi itu mengubah padi biasa menjadi "padi unggul" yang tahan ancaman perubahan iklim.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 26 Apr 2019 18:28 WIB

Author

Adi Ahdiat

Siaga Perubahan Iklim, Negara Asia Pasifik Belajar Buat 'Padi Nuklir'

Peserta dari negara-negara Asia Pasifik mengikuti pelatihan pemuliaan mutasi tanaman dengan nuklir di ruang rapat PAIR BATAN, Jakarta (22/4/2019) (Foto: www.batan.go.id).

KBR - Perubahan iklim diproyeksikan akan menyebabkan kekeringan di masa depan. Ketika itu terjadi, produktivitas tanaman pangan dunia terancam akan menurun.

Untuk menjaga ketahanan pangan di masa depan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) lantas menggelar pelatihan rekayasa tanaman pangan dengan teknologi nuklir di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta, tanggal 22 – 26 April 2019.

Pelatihan diselenggarakan oleh Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN dan diikuti oleh sejumlah negara Asia Pasifik yakni Papua New Guinea, Palau, Fiji, Vanuatu serta Ethiopia.

Pelatihan ini difokuskan untuk mutasi tanaman padi dan pisang. Menurut Soeranto, peneliti BATAN, Indonesia memang termasuk negara yang unggul dalam hal mutasi tanaman.

“Indonesia sudah leading, kami sudah melepas banyak varietas padi, dan beberapa di antaranya tahan terhadap kekeringan,” jelas Soeranto dalam rilisan persnya (22/4/2019).

“Kami sudah kirim bibit mutan tanaman padi, sorgum dan kedelai untuk marker development yang tahan kekeringan. Kalau itu berhasil, marker itu akan digunakan oleh negara-negara Asia Pasifik untuk seleksi tanaman,” tambah Soeranto.

Bulan Juli 2019 mendatang, BATAN juga akan menggelar pelatihan serupa untuk perwakilan negara Kongo, Togo, Nepal dan Malaysia.


Menyinari Padi dengan Radiasi Gamma

BATAN telah melakukan riset mutasi tanaman dengan nuklir setidaknya sejak tahun 1977. BATAN menggunakan teknik mutasi radiasi sinar gamma untuk menghasilkan varietas-varietas baru.

Untuk padi, misalnya. BATAN menyinari bibit-bibit padi dengan radiasi gamma dalam dosis yang aman untuk bahan makanan.

Proses radiasi kemudian akan mengubah susunan genetik padi hingga memunculkan sifat-sifat dan keunggulan baru seperti tahan hama, tahan kekeringan, dan cepat panen.


Padi Nuklir Aman Dikonsumsi

Menurut BATAN radiasi ini tidak meninggalkan unsur radioaktif pada padi, sehingga sepenuhnya aman untuk dikonsumsi.

Djarot Sulistio Wisnubroto, mantan Kepala BATAN, sudah mengonfirmasi hal itu, “Saya ini makan beras BATAN tiap hari. Kalau saya jadi tidak sehat, berarti beras BATAN itu berbahaya. Tapi ini kan saya sehat-sehat saja. Tidak ada masalah, karena beras unggul yang dihasilkan BATAN itu memang sehat,” ujarnya dalam situs resmi BATAN.


Padi Nuklir Produktif dan Enak

Salah satu varietas padi mutan keluaran BATAN bernama padi Mustajab, singkatan dari Mutasi Radiasi Varietas Jawa Barat. Padi ini banyak ditanam di daerah Bandung Selatan dan tercatat memiliki produktivitas 35 persen lebih tinggi dari varietas alaminya.

Berbagai varietas padi nuklir juga telah dibudidayakan di Sulawesi Selatan (Sulsel) serta diklaim telah berhasil meningkatkan produksi dan mempercepat masa panen.

Kalau biasanya petani Sulsel panen 6 ton padi per hektar, dengan bibit padi BATAN jumlahnya dilaporkan bisa meningkat hingga 9 – 10 ton padi per hektar.

Masa tanamnya juga lebih singkat, dari yang normalnya 120 – 130 hari, menjadi sekitar 100 hari saja.

”Nasinya pulen. Berasnya juga tahan lama. Tiap hari saya makan itu, jauh lebih enak dari Rojolele dan Pandanwangi,” jelas Djarot di situs resmi BATAN.


Padi Nuklir Diragukan Pemerintah

Meski diklaim memiliki banyak keunggulan, padi dan berbagai varietas mutasi tanaman nuklir keluaran BATAN masih diragukan oleh pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Alhasil, inovasi teknologi ini belum bisa diterapkan dan dimanfaatkan secara meluas di Indonesia.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.5: Kuliah di Iran, Cerita dari Bahesty Zahra

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17