Pendiri Wikileaks Ditangkap atas Tuduhan Meretas Data Pemerintah AS

Menurut Ketua Komite Intelijen Senat AS, apa yang dilakukan Assange dan Wikileaks bukanlah kerja jurnalistik, melainkan kerja mata-mata.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Jumat, 12 Apr 2019 17:11 WIB

Author

Adi Ahdiat

Pendiri Wikileaks Ditangkap atas Tuduhan Meretas Data Pemerintah AS

Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, tiba di Pengadilan Hakim Westminster setelah ia ditangkap di London, Inggris (11/4/2019) (Foto: ANTARA/REUTERS/Hannah McKay/aww/cfo).

Pendiri Wikileaks, Julian Assange, baru saja ditangkap oleh Kepolisian Inggris hari Kamis lalu di London (11/4/2019).

Menurut laporan Reuters.com, penangkapan ini dilakukan atas permintaan ekstradisi dari pemerintah Amerika Serikat (AS).

Assange dituduh terlibat dalam konspirasi peretasan ratusan ribu dokumen rahasia milik pemerintah AS.

Julian Assange selama tujuh tahun menjalani hidup dalam perlindungan suaka politik pemerintah Ekuador, di kantor Kedutaan Besar Ekuador di London, Inggris. Namun, belakangan Presiden Ekuador Lenin Moreno mencabut pemberian suaka dengan dalih Assange berulangkali melanggar kesepakatan dan aturan internasional. 

Sikap pemerintah Ekuador itu mengecewakan Wikileaks. Wikileaks menyebut pencabutan suaka itu ilegal. 


Wikileaks Mencemarkan Nama Baik?

Nama Julian Assange pertama dikenal dunia pada tahun 2010, ketika situs Wikileaks.com yang ia kelola menerbitkan video rahasia militer AS.

Video tersebut memperlihatkan pasukan militer AS tengah melakukan serangan udara di Baghdad tahun 2007. Serangan itu menewaskan belasan orang, termasuk dua orang jurnalis Reuters.

Setelah itu Wikileaks menerbitkan ratusan ribu data komunikasi diplomatik AS yang berisi analisis diplomat AS tentang para pemimpin dunia, mulai dari Presiden Rusia Vladimir Putin sampai anggota keluarga kerajaan Arab Saudi.

Untuk Indonesia sendiri, Wikileaks pernah menerbitkan dokumen yang menyebut bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati pernah terlibat korupsi pencetakan uang kertas di Australia tahun 1999.

SBY, sebagaimana pemerintah negara-negara lain, kemudian membantah data-data yang diterbitkan oleh Wikileaks. Situs “pembocor data rahasia” ini dianggap tidak berdasarkan fakta, serta mencemarkan nama baik pemerintah dan pejabat publik di berbagai negara.


Baca Juga: Wikileaks Rilis Korupsi Pemimpin Asia, SBY Bantah Terlibat Korupsi 


Jurnalis atau Mata-Mata?

Meski tidak disukai kalangan pemerintahan, Julian Assange tetap punya kalangan pengagum tersendiri.

Reuters.com menyebut, ada kalangan yang menganggap Assange sebagai pahlawan karena keberaniannya mengekspos berbagai tindak penyalahgunaan kekuasaan oleh negara. Assange juga dianggap sebagai pembela hak kebebasan berpendapat.

Pada tahun 2011 Assange bahkan sempat dianugerahi Martha Gellhorn Prize, penghargaan untuk jurnalis yang karya-karyanya dinilai mampu mengungkap kebenaran dan membongkar propaganda kekuasaan.

Namun, menurut Ketua Komite Intelijen Senat AS, Richard Burr, apa yang dilakukan Assange ini bukanlah kerja jurnalistik, melainkan kerja mata-mata.

Dalam wawancara dengan Reuters.com, Burr mengatakan, "Di bawah kedok transparansi, Julian Assange dan WikiLeaks telah bertindak sebagai perpanjangan tangan dinas intelijen Rusia selama bertahun-tahun. Mudah-mudahan, dia sekarang akan mendapat keadilan," ujarnya.

(Sumber: www.reuters.com

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17