Sri Mulyani: Dampak Wabah Corona Lebih Rumit dari Krisis Keuangan 2008

"Karena menyangkut masalah orang yang tidak berani melakukan mobilitas, tidak melakukan kegiatan, itu pengaruhi sektor riil, investasi, manufaktur."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 05 Mar 2020 18:47 WIB

Author

Adi Ahdiat

Sri Mulyani: Dampak Wabah Corona Lebih Rumit dari Krisis Keuangan 2008

Menkeu Sri Mulyani saat menyampaikan realisasi APBN 2020 di Jakarta bulan lalu (19/2/2020). (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

KBR, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai dampak wabah Coronavirus disease 2019 (Covid-19) lebih rumit dari dampak krisis keuangan global tahun 2008 lalu.

"Lebih rumit ini (Covid-19), karena ini menyangkut manusia, ini menyangkut diri langsung pada ancaman mereka, keselamatan, kesehatan, sampai pada kemungkinan terancam meninggal dunia, itu yang jauh dampaknya lebih langsung," tutur Sri Mulyani kepada Antara, Kamis (5/3/2020).

Sri Mulyani menjelaskan, krisis keuangan global 2008 awalnya hanya memberi tekanan pada lembaga jasa keuangan, baru kemudian merambat pada pemutusan hubungan kerja (PHK) dan bangkrutnya sejumlah korporasi.

Namun, dalam kasus wabah Covid-19, tekanan terjadi pada masyarakat secara langsung dan menghambat berbagai kegiatan, seperti sekolah yang diliburkan dan pabrik ditutup.

"Sekarang mungkin langsung mengena pada sektor riilnya. Karena menyangkut masalah orang yang tidak berani melakukan mobilitas, tidak melakukan kegiatan, itu pengaruhi sektor riil, investasi, manufaktur," ujarnya.

Pemerintah Sedang Rancang Kebijakan

Menkeu Sri Mulyani menegaskan saat ini pemerintah tengah berfokus merancang kebijakan untuk membendung dampak Covid-19 terhadap ekonomi nasional.

"Entah melalui berbagai relaksasi dan juga dari sisi permintaan, supaya masyarakat, yang pertama, jangan merasa ketakutan, yang membuat mereka tidak melakukan kegiatan apa-apa," ujar Sri kepada Antara, Kamis (5/3/2020).

"Makanya respons pertama fokusnya yang langsung berhubungan dengan pariwisata, seperti hotel, restoran, maskapai. Tapi sekarang (dampak Covid-19) kita lihat lebih luas kepada sektor manufaktur."

"Jadi bentuk pemihakan, bantuan, insentif, harus dimodifikasi berdasarkan kebutuhan. Kami sedang hitung dan rancang ini, kalau sudah matang kita akan laporkan dan akan dibahas di kabinet," tandas Sri.

Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Pemerintah Akui Penerapan PSBB di Daerah Sulit

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 15