Riset: Korban Pandemi Bisa Diminimalkan dengan Menutup Area Publik

Di tengah pandemi Influenza tahun 1918, kota yang bergegas menutup area-area publiknya di fase awal penyebaran virus memiliki tingkat kematian relatif sedikit.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 12 Mar 2020 17:48 WIB

Author

Adi Ahdiat

Riset: Korban Pandemi Bisa Diminimalkan dengan Menutup Area Publik

Ilustrasi: Petugas militer berjaga di area Katedral Duomo di Milan, Italia, yang ditutup demi mencegah penyebaran Covid-19 (24/2/2020). (Foto: ANTARA/REUTERS)

KBR, Jakarta - Penyebaran Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) terus meluas, hingga WHO menaikkan statusnya menjadi pandemi atau wabah global pada Rabu (11/3/2020).

WHO juga menegaskan bahwa vaksin spesifik untuk melawan virus penyebab Covid-19 belum ditemukan hingga sekarang.

Lantas, langkah apa yang bisa dilakukan negara-negara, termasuk Indonesia, untuk menghadapi situasi ini?


Belajar dari Kasus Pandemi Influenza

Ini bukan wabah global pertama. Pada tahun 1918 dunia juga pernah dilanda pandemi virus Influenza.

Saat itu Influenza menginfeksi sekitar 500 juta orang dan menewaskan hingga 50 juta orang di berbagai negara.

Namun belakangan, tim peneliti dari Universitas Princeton menemukan bahwa di tengah pandemi tersebut, ada sejumlah kota di Amerika Serikat yang mampu menekan penyebaran virus Influenza dengan mengintervensi area publik.

Intervensi itu dilakukan dengan menutup lokasi kegiatan massal seperti sekolah, gereja, gedung teater, aula dansa, dan sebagainya.

"Kota-kota yang menerapkan intervensi (menutup area publik) di fase awal penyebaran virus memiliki tingkat kematian (akibat Influenza) sekitar 50 persen lebih rendah dari kota lainnya," jelas tim peneliti Universitas Princeton dalam laporan risetnya.


Makin Cepat Area Publik Ditutup, Makin Sedikit Jumlah Korban

Dalam laporannya, tim peneliti Universitas Princeton membandingkan kasus penyebaran Influenza tahun 1918 di Kota St.Louis dan Philadelphia, Amerika Serikat.

Ketika itu, St. Louis langsung menutup area-area publik 2 hari setelah kasus pertama Influenza ditemukan di kotanya. Pemerintah setempat juga mengimbau warganya untuk melakukan social distancing, yakni membatasi jarak saat berinteraksi dengan orang lain.

Hasilnya, tingkat kematian akibat Influenza di St. Louis adalah 347 korban jiwa per 100.000 orang selama periode tiga bulan.

Angka itu jauh lebih rendah dibanding tingkat kematian di Philadelphia.

Menurut tim peneliti Universitas Princeton, Philadelphia baru menutup area publik 17 hari setelah kasus pertama Influenza diumumkan di wilayahnya. Philadelphia juga sempat menggelar acara parade di kotanya sebelum menerapkan kebijakan isolasi.

Hasilnya, tingkat kematian akibat Influenza di Philadelphia mencapai 719 korban jiwa per 100.000 orang selama tiga bulan. Sekitar dua kali lipat dari tingkat kematian di St. Louis.

"Kota yang menerapkan intervensi (menutup area publik) secara dini memiliki tingkat kematian relatif sedikit," kata tim peneliti Universitas Princeston dalam laporannya.

"Sedangkan di kota yang belakangan (menutup area publik) kematian lebih banyak terjadi," sambung mereka.

Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Mengadukan Dampak Corona

Mencegah Pandemi Masuk Lapas