Polri Ungkap 12 Kasus Penimbunan Masker dan Hand Sanitizer

Dari belasan kasus ini, 25 orang ditetapkan sebagai tersangka.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 05 Mar 2020 21:58 WIB

Author

Lea Citra, Muthia Kusuma

Polri Ungkap 12 Kasus Penimbunan Masker dan Hand Sanitizer

Karyawan menunjukkan masker jenis N95 disalah satu toko alat kesehatan di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (3/3/2020). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

KBR, Jakarta- Polri mengungkap 12 kasus penimbunan masker dan hand sanitizer sejak 2 hari lalu. Juru bicara Polri Asep Adi Saputra menyebut penimbunan ini terjadi di DKI Jakarta, Jawa timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Kepri, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Dari belasan kasus ini, 25 orang ditetapkan sebagai tersangka.

"Kasus tidak hanya sekedar penimbunan saja, tetapi juga penjualan marker yang tidak sesuai dengan SNI, itu juga pelanggaran hukum. Ada juga recycle atau rekondisi bekas," kata Asep di Bareskrim Polri, Kamis (5/3/2020).

Penimbun masker akan dijerat Pasal 107 Undang-undang Nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun. 

“Kepolisian melakukan koordinasi dengan beberapa instansi terkait dan melakukan penyelidikan bagi para pelaku usaha yang melakukan penimbunan. Apabila terbukti akan dikenakan Pasal 107 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman hukuman 5 tahun dan denda Rp 50 miliar,” kata Asep di Hotel Mercure, Jakarta Utara, Selasa (3/3).

Polri akan membuka peluang adanya pemanfaatan barang bukti masker sitaan ini. Namun menurut Asep, keputusan pemanfaatan masker sitaan ini akan didiskusikan dengan Kejaksaan dan Kementerian Kesehatan terlebih dahulu.

"Juga harus koordinasi dengan Kejaksaan nantinya ya, terkait dengan perlakuan barang bukti. Ini saya katakan tadi, bahwa penyidikan dalam konteks peristiwa hari ini. Itu juga harus mempertimbangkan hal-hal yang lebih penting daripada penyidikan gitunya. Untuk masyarakat yang membutuhkan pada saat ini," pungkasnya.

Stok Masker di Apotek Menipis

Mewabahnya corona Covid-19 menyebabkan permintaan masker di sejumlah apotek, toko kesehatan dan pusat perbelanjaan menipis. Menipisnya stok masker ini pun dilaporkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) ke Kementerian Kesehatan agar ditindaklanjuti.

Wakil Sekjen IAI, Lucy menegaskan permintaan masker tak hanya terkait corona, tetapi juga kondisi lain seperti antisipasi dampak erupsi gunung merapi.

"Bahkan sekarang ditambah lagi satu, gunung Merapi meletus. Gunung Merapi meletus itu juga penting sekali membutuhkan masker untuk mencegah debu. Sementara persediaan masker di kita sepertinya masih belum memadai. Karena memang demand yang tinggi, jadi ketakutan atau kecemasan orang-orang terhadap Corona ini membuat supply masker menjadi sangat diminati," kata Lucy kepada KBR, Rabu,(4/3/2020).

Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Pemeriksaan COVID-19 Bakal Ditingkatkan Jadi 300 Ribu Orang per Bulan

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17