Peneliti ITB Prediksi Wabah Corona di Indonesia Berakhir April 2020

"Kami tidak tahu jumlah kasus yang sebenarnya, tetapi yang jelas kasus yang terjadi jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan."

BERITA | NASIONAL

Senin, 16 Mar 2020 14:09 WIB

Author

Adi Ahdiat

Peneliti ITB Prediksi Wabah Corona di Indonesia Berakhir April 2020

Proyeksi kasus Covid-19 di Indonesia periode Maret-April 2020 (15/3/2020). (Gambar: PPMS ITB/Nuning Nuraini dkk.)

KBR, Jakarta - Penyebaran Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) di Indonesia diprediksi akan berlanjut hingga beberapa pekan ke depan.

Prediksi itu disampaikan tim peneliti matematika epidemiologi dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (PPMS ITB) yakni Nuning Nuraini, Kamal Khairudin, dan Mochamad Apri.

Tim PPMS ITB membuat simulasi penyebaran Covid-19 di Indonesia berdasarkan analisis data kasus wabah di Korea Selatan.

Dari simulasi itu, mereka memperkirakan puncak epidemi Covid-19 di Indonesia akan terjadi pada penghujung Maret 2020.

Sedangkan akhir penyebarannya diprediksi bakal terjadi pertengahan April 2020.

Uraian metodologi dan perhitungan yang mendasari prediksi ini bisa disimak di laporan riset Data dan Simulasi Covid-19 Dipandang dari Pendekatan Model Matematika yang dipublikasikan portal E-Prints ITB, Minggu (15/3/2020).


Artikel Terkait:


Kalau Tak Ada Pencegahan Serius, Wabah Bisa Makin Buruk

Tim PPMS ITB juga memprediksi akan ada sekitar 8.000 kasus Covid-19 di Indonesia dalam beberapa pekan ke depan, sama seperti yang terjadi di Korea Selatan.

Namun, mereka mewanti-wanti, prediksi itu bisa saja membengkak berkali-kali lipat jika langkah pencegahan Indonesia tidak sekuat Korea Selatan.

"Bisa dibayangkan bila langkah pencegahan tidak dilakukan secara serius, maka kasus (Covid-19 di Indonesia) bisa berlipat dalam puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan penderita," tulis Tim PPMS ITB.

"Tentu saja pendekatan model ini masih sederhana, belum sempurna, tapi pada dasarnya semua model yang ada menunjuk ke pesan yang sama: Kami tidak tahu jumlah kasus yang sebenarnya, tetapi yang jelas kasus yang terjadi jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan," lanjut mereka.

Untuk meminimalkan penyebaran Covid-19, Tim PPMS ITB menekankan perlunya menerapkan social distancing atau penjarakan sosial.

Penjarakan sosial bisa dilakukan dengan bekerja dari rumah, bersekolah dari rumah, dan menghentikan kegiatan-kegiatan yang bersifat massal.

"(Pembatasan sosial) mungkin tidak nyaman, menjengkelkan, dan mengecewakan. Namun itu sepadan dengan resiko yang akan kita hadapi bila mengabaikannya," tulis mereka.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Belajar dari Italia, Seperti Apa Karantina Wilayah yang Efektif?

Jokowi Janjikan Bantuan ke Pekerja Informal agar Tidak Mudik di Tengah Wabah Korona

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18