Pemerintah Didesak Buka Informasi Wilayah Sebaran Corona di Indonesia

Informasi soal sebaran kasus itu sangat penting bagi masyarakat untuk mengukur risiko paparan di daerah mereka.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 12 Mar 2020 14:21 WIB

Author

Heru Haetami, Resky Novianto

Pemerintah Didesak Buka Informasi Wilayah Sebaran Corona di Indonesia

Personel Satgas Mobile COVID-19 membawa pasien diduga terjangkit virus Corona (COVID-19) di RS Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. (Foto: Antara/Oky Lukmansyah)

KBR, Jakarta- Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif menilai pemerintah seharusnya membuka informasi geografis temuan kasus Covid-19 kepada publik. 

Keterbukaan informasi ini menurutnnya akan membantu masyarakat tuntuk meningkatkan kewaspadaan sehingga pennyebaran Covid-19 ini tidak berkembang lebih luas.

"Apa yang saya maksud dengan keterbukaan? pemerintah mempunyai kebijakan saat ini tentang dua hal yang menurut saya tidak benar. Mungkin pemerintah tentunya merasa itu benar. Yang pertama adalah pemerintah tidak ingin menyampaikan informasi mengenai lokasi geografis kasus konfirmasi, dia  tidak mau menyampaikan kasus konfirmasi ada di kota mana. Itu gak mau disampaiakan. Yang kedua adalah pemerintah juga memutuskan tidak mau menyampaikan informasi mengenai asal negara yang dikunjungi dari kasus impor," kata Syahrizal kepada KBR, Kamis (12/3/2020).

Syahrizal Syarif mengatakan, informasi soal sebaran kasus itu sangat penting bagi masyarakat untuk mengukur risiko paparan di daerah mereka masing-masing. Sementara informasi asal negara impor menurutnya, akan membantu perencanaan seseorang bepergian ke luar negeri.

"Jadi orang-orang mengetahui misalnya di lokasi Batam angka sekian, lalu di Bali angkanya sekian. Masyarakat kemudian akan sadar . Sehingga msyarakat bisa mengukur pilihan-pilihan kegiatan mereka. Kemudian untuk kasus impor yang berasal dari negara-negara yang memiliki kasusnya banyak. Dari situ masyarakat akan memutuskan," katanya.

Sebelumnya, juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, saat ini contact tracing masih dilakukan secara tertutup, untuk kepanikan di kalangan masyarakat. Karenanya, tracing akan dilakukan terus menerus secara hati-hati, dan tetap dikomunikasikan antar dinas kesehatan di Indonesia.

"Contact tracing maaf kami belum bisa membuka seperti di Singapura, karena tracing kita ternyata tidak berputar di wilayah kecil. Tracing (misalnya) yang kita kejar sudah berada di luar Jawa, mobilitas tinggi, dan ini datanya ada di tempat kami. Maaf tidak bisa dibuka karena responsnya macam-macam, dari belum samanya pemahaman di antara kita. Tapi komunikasi antar dinas kesehatan berada pada satu sistem," ucap Achmad Yurianto, Selasa (10/3/2020).

Yurianto mengatakan, meski tertutup tracing dilakukan dengan teliti dan melalui pembicaraan yang terperinci dengan tetap mengedepankan keamanan privasi para korban. 

Contact tracing sendiri adalah usaha yang dilakukan terhadap pasien sumber penyakit menular, dengan menelusuri riwayat perjalanan, pertemuan hingga lokasi-lokasi yang didatangi sebelum dinyatakan positif terpapar virus corona. 


Editor: Friska Kalia

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Pemerintah Akui Penerapan PSBB di Daerah Sulit

Kabar Baru Jam 17