KPK Hapus 'Religiusitas' dari Kode Etik Lembaganya

Nilai dasar lembaga 'Religiusitas' diganti dengan 'Sinergi'.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 05 Mar 2020 14:57 WIB

Author

Adi Ahdiat

KPK Hapus 'Religiusitas' dari Kode Etik Lembaganya

Ketua KPK Firli Bahuri (tengah), tim Dewas dan jajarannya berfoto usai penandatanganan kontrak kerja di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (5/3/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyusun Kode Etik baru untuk lembaganya.

Sebelumnya, Kode Etik KPK memuat lima nilai dasar lembaga yakni Keadilan, Profesional, Kepemimpinan, Religiusitas, dan Integritas.

Namun dalam Kode Etik KPK baru, 'Religiusitas' dihapus dan digantikan dengan 'Sinergi'.

"Nilai religiusitas yang sebelumnya disebut secara eksplisit, dianggap melekat dan meresap ke dalam setiap insan manusia serta memayungi seluruh nilai dasar yang ada," jelas KPK di keterangan resminya, Rabu (4/3/2020).

“Sinergi bukan berarti kompromi, dan sinergi tidak menghilangkan independensi insan KPK,”  tambah Ketua Dewan Pengawas (Dewas) KPK Tumpak Hatorangan.

Lihat Juga: ICW: Penghentian Penyelidikan Kasus di KPK Meningkat Sejak Dipimpin Firli

 Selain mengubah satu nilai dasar, Kode Etik KPK 2020 ini juga menetapkan beberapa kebijakan baru, yakni:

  • Bila pegawai dan pimpinan KPK melanggar Kode Etik, maka akan disidang oleh Dewas.
  • Bila Dewas melakukan pelanggaran, maka akan disidang oleh Majelis Kehormatan Kode Etik.
  • Dalam Kode Etik lama ada tambahan norma khusus untuk pimpinan dan penasihat. Tapi dalam Kode Etik baru semua norma berlaku sama bagi Dewas, pimpinan, dan pegawai KPK.
"Nanti kalau sudah diundangkan maka tentu kita akan melakukan sosialisasi secara menyeluruh dan itu kita sampaikan dengan rekan-rekan wartawan," kata Ketua KPK Firli Bahuri kepada Antara, Kamis (5/3/2020).

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11