Ini Alasan Jokowi Sarankan Petani Sawit Beralih ke Durian

"Itu yang namanya Tiongkok, minta dari Malaysia masih kurang-kurang. Durian juga bagus kita,"

NASIONAL

Rabu, 20 Mar 2019 07:07 WIB

Author

Dian Kurniati

Ini Alasan Jokowi Sarankan Petani Sawit Beralih ke Durian

Ilustrasi: Durian merah Banyuwangi, Jatim. (Foto: Mohammad Reza)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo menyarankan para petani kelapa sawit yang usia pohonnya sudah tua, beralih ke tanaman lain, seperti durian. Jokowi mengatakan, usia produktif kelapa sawit hanya sekitar 30 tahun, dan setelahnya harus diremajakan.

Kata Jokowi, meremajakan lahan dengan tetap menanam kelapa sawit tak akan terlalu menguntungkan karena perdagangan minyak kelapa sawit di dunia sedang sulit. Adapun durian, saat ini permintaannya justru tinggi, seperti dari Tiongkok.

"Eropa ada masalah, langsung harga juga turun, karena suplai banyak banget. Apakah tidak ada  komoditas lain yang miliki pasaran lebih baik. Kalau sawit, maaf ya, ini sudah gede banget. Kenapa enggak, misalnya, lahan-lahan yang besar, ada menanam durian. Itu yang namanya Tiongkok, minta dari Malaysia masih kurang-kurang. Durian juga bagus kita," kata Jokowi di depan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, di Istana Negara, Selasa (19/03/2019).

Jokowi mengatakan, kualitas durian Indonesia tak kalah bersaing dibanding produksi negara lain, seperti Malaysia dan Thailand. Selain itu, kata Jokowi, beberapa wilayah justru memiliki varietas durian yang berbeda-beda dengan beraneka warna seperti merah.

Jokowi memperkirakan, sawit masih akan menghadapi banyak tantangan. Pasalnya, produksi kelapa sawit di dalam negeri sangat besar, yakni 46 juta ton per tahun, yang dihasilkan dari 14 juta hektare lahan.

Meski harga sudah berangsur membaik, kata Jokowi, masih ada masalah diskriminasi Uni Eropa dan pengenaan bea masuk ke India. Dalam pengembangan perkebunan pun, menurut Jokowi, perbankan juga pikir-pikir, sebelum memberikan kredit. Sehingga, kata Jokowi, pengusaha bisa berfokus pada hilirisasi minyak kelapa sawit, misalnya untuk sabun dan kosmetik.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.