Enam Bulan Pasca Tsunami Palu, 6.000 Anak Masih Tinggal di Pengungsian

"Dana sudah mulai mengering, dan kami memanggil komunitas internasional untuk merogoh lebih dalam lagi dukungan guna menolong para keluarga tersisa untuk bisa bangkit kembali," ujar aktivis STC.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Rabu, 27 Mar 2019 11:29 WIB

Author

Adi Ahdiat

Enam Bulan Pasca Tsunami Palu, 6.000 Anak Masih Tinggal di Pengungsian

Seorang anak pengungsi korban gempa berada di pengungsian Dupa Indah di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (26/3/2019). (Foto: ANTARA/Moh Hamzah)

Enam bulan pasca bencana, para korban gempa dan tsunami Palu belum pulih dari dukanya.

Menurut laporan Save the Children (Yayasan Sayangi Tunas Cilik/STC) sampai sekarang masih ada sekitar 6.000 anak yang terpaksa tinggal di pengungsian.

“Saat puluhan ribu orang sudah bisa dijangkau, enam bulan setelah bencana ini kami masih sangat khawatir dengan kondisi 6.000 anak yang masih tinggal di hunian sementara seperti tenda, serta ribuan lainnya yang tinggal di rumah-rumah rusak. Hunian sementara ini memiliki kondisi sangat seadanya — tenda-tenda atau rumah-rumah sementara — dan juga kerap tidak berlantai, sehingga akan banjir ketika hujan,” kata Tom Howells, Response Team Leader STC dalam rilisan persnya (26/3/2019).

Menurut STC, masih ada banyak tumpukan puing-puing tajam di lingkungan pengungsian sehingga membahayakan ribuan anak yang tinggal di sana.

Sistem sanitasi pengungsian yang buruk juga membuat anak-anak berisiko terkena penyakit seperti diare, pneumonia dan demam berdarah.

Tom Howells menilai bahwa masyarakat korban gempa Palu masih membutuhkan pertolongan dalam jumlah besar.

“Gempa susulan masih terasa, enam bulan berjalan dan kita masih bisa melihat di lapangan bahwa bencana ini sangat menekan dan merapuhkan anak-anak dan orang dewasa. Namun, dana sudah mulai mengering, dan kami memanggil komunitas internasional untuk merogoh lebih dalam lagi dukungan terhadap upaya-upaya penanganan guna menolong para keluarga tersisa untuk bisa bangkit kembali,” ujar Howells dalam rilisan pers STC (26/3/2019).


Mengingat Lagi Bencana Palu – Donggala

Tanggal 28 September 2018 lalu Sulawesi Tengah diguncang gempa berkekuatan sekitar 7,7 SR.

Gempa ini kemudian memicu gelombang tsunami dan menimbulkan kerusakan besar di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Gempa yang sama juga memicu likuifaksi (pencairan tanah) di berbagai wilayah di sekitarnya.

Menurut laporan BNPB per 20 Oktober 2018, bencana ini mengakibatkan sekitar 2.113 orang meninggal dunia, 1.309 hilang, 4.612 luka-luka, dan lebih dari 60.000 bangunan rusak.

Menurut perhitungan BNPB per 27 Oktober 2018, nilai total kerusakan akibat bencana ini mencapai sekitar Rp 18,4 triliun, dengan kerusakan terbesar di sektor pemukiman warga.


Baca Juga:

BUMN dan Swasta Akan Keroyokan Bangun Rumah Tahan Gempa di Palu 

Pimpinan KPK Diminta Ikut Awasi Penyaluran Dana Bencana 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.