Peneliti Terorisme: Sudah Ada WNI Eks ISIS yang Pulang Tanpa Terdeteksi

"Kalau nggak dideteksi, mereka (WNI eks ISIS) nanti bisa pulang sendiri. Kasusnya bukan teori, tapi sudah ada sebelumnya."

BERITA | NASIONAL

Senin, 17 Feb 2020 13:52 WIB

Author

Adi Ahdiat

Peneliti Terorisme: Sudah Ada WNI Eks ISIS yang Pulang Tanpa Terdeteksi

Kombatan ISIS. (Foto: Wikimedia Commons/Stantheman87)

KBR, Jakarta- Sudah pernah ada WNI eks ISIS yang pulang dari Suriah ke Indonesia tanpa terdeteksi.

Hal tersebut diungkapkan Noor Huda Ismail, peneliti terorisme yang mendirikan Yayasan Prasasti Perdamaian, dalam talkshow Ruang Publik KBR, Senin (17/2/2020).

"Kalau nggak dideteksi, mereka (WNI eks ISIS) nanti bisa pulang sendiri. Kasusnya bukan teori, tapi sudah ada sebelumnya," tutur Noor Huda kepada KBR.

"Agustus 2017 saya bantu Kemenlu mendokumentasikan proses pemulangan WNI eks ISIS. Tapi, sebelum itu ada beberapa yang mampu pulang sendiri."

"Kita beruntung sebagian dari mereka mau berintegrasi dengan baik karena kecewa dengan ISIS. Tapi juga ada kasus, mereka pulang untuk melakukan rekrutmen dan balik lagi ke sana, kita kan nggak tahu," lanjutnya.

Karena kasus itu, Noor Huda berharap pemerintah bisa membuat strategi penanganan WNI eks ISIS secara komprehensif.

"Jadi isunya nggak hanya memulangkan atau nggak memulangkan, tapi (WNI eks ISIS) terdeteksi atau tidak," ujarnya.

"Karena itu kita perlu dua hal. Satu, benar kata Pak Jokowi, perlu identifikasi yang matang, siapa saja yang ada di sana (Suriah). Tapi di saat bersamaan, di internal kita dalam negeri ini juga harus disiapkan (strategi deteksi dan penanganan eks ISIS)," lanjut Noor Huda.


WNI Eks ISIS Bisa Pulang Lewat 'Jalur Tikus'

Noor Huda menjelaskan, untuk di luar negeri, pemerintah mesti mengidentifikasi WNI eks ISIS di Suriah secara terperinci, bukan hanya mendata nama.

"Kan kadang namanya Abu ini.. Abu itu.. Jadi kita nggak tahu siapa sebetulnya mereka ini. Kalau (cara identifikasinya) indepth interview dan kita beberapa kali melakukan assessment itu akan lebih baik. Misalnya, ada program identifikasi di sana (Suriah) beberapa bulan," jelas Noor Huda.

Sedangkan untuk di dalam negeri, pemerintah harus mengantisipasi kemungkinan adanya WNI eks ISIS yang pulang lewat 'jalur tikus' dengan bantuan masyarakat.

"Ini nggak bisa diselesaikan satu lembaga saja seperti BNPT, Densus, BIN, tapi juga bermacam sektor mulai dari imigrasi, ulama, dan masyarakat lokalnya," jelas Noor Huda.

"Jadi jangan dibayangkan (WNI eks ISIS) masuknya lewat Jakarta. Pintu masuk ke Indonesia itu kan banyak, bisa lewat Malaysia, Sabah, bisa jadi lewat Sumatera, lewat Medan, karena 'jalur tikus'-nya itu ada beberapa. Dan sampai detik ini, di wilayah Sabah itu orang keluar masuk nggak terdeteksi," lanjutnya.

"Negara harus menyiapkan betul infrastrukturnya. Ini bukan hanya pilihan kita ambil (pulangkan WNI eks ISIS) apa nggak, mereka akan cari jalan untuk balik (ke Indonesia), bayangkan kalau baliknya itu penuh kemarahan."

"Kita khawatir sudah ada banyak (WNI eks ISIS) yang masuk lewat 'jalur tikus', dan kita nggak ngerti harus berbuat apa. Masyarakat dan pemerintah harus kerja sama lewat tindakan hukum."

"Boleh saja pemerintah ngomong nggak dipulangin, itu retorika politik yang benar di depan masyarakat yang mayoritas menolak (kepulangan WNI eks ISIS). Tapi praktiknya, kita orang di lapangan tahu, it's not easy like that," tukas Noor Huda.

Editor: Agus Luqman
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17