Share This

Penyidikan Kasus Air Keras Buntu, Polda Metro Jaya Kembali Salahkan Novel Baswedan

"Kami berharap beliau mau diperiksa, karena bagaimanapun juga jika ada orang yang dipukul, orang dianiaya, orang dikeroyok itu kan keterangan pihak korban sangat-sangat penting buat kami."

, BERITA , NASIONAL

Selasa, 06 Feb 2018 19:16 WIB

Author

Ade Irmansyah

Penyidikan Kasus Air Keras Buntu, Polda Metro Jaya Kembali Salahkan Novel Baswedan

Aksi Kamisan menuntut evaluasi kinerja Polri dalam mengusut kasus teror terhadap Novel Baswedan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (11/1/2018). (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)

KBR, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) kembali menyalahkan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan terkait buntunya penuntasan peristiwa penyiraman air keras yang menimpa Novel, beberapa bulan silam.

Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Nico Afinta mengatakan penyidik sangat membutuhkan keterangan Novel sebagai korban, namun hingga saat ini Novel masih enggan diminta keterangan.

Padahal, kata Nico, melihat dari kinerja Novel di KPK, kemungkinan teror itu ada kaitannya dengan penuntasan kasus-kasus korupsi di KPK yang ditangani Novel.

Meski demikian, Nico Afinta mengatakan Polda Metro Jaya tetap berkomitmen menuntaskan masalah ini sesegera mungkin.

"Kami berharap beliau mau diperiksa, karena bagaimanapun juga jika ada orang yang dipukul, orang dianiaya, orang dikeroyok itu kan keterangan pihak korban sangat-sangat penting buat kami. Kenapa? Karena seseorang ada sebelum kejadian itu memang perlu kami dapatkan informasi tersebut. Misalkan, Novel menangani kasus-kasus penting jadi dia mungkin bisa menyampaikan kepada kami kira-kira siapa pelakunya," kata Nico Afinta di Kantor Ombudsman RI, Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Teror penyiraman air keras ke muka Novel Baswedan terjadi pada Selasa, 11 April 2017 lalu. Hingga saat ini sudah 301 hari, atau 9 bulan, 26 hari kasus itu tidak ada titik terang.

Baca juga:

Nico Afinta mengatakan keengganan Novel untuk diperiksa itu bukan satu-satunya kendala penyidikan kasus itu, meski polisi sudah diinstruksi oleh Presiden Joko Widodo agar segera menuntaskan perkara itu. 

Kendala lain, kata Nico, adalah belum bisa ditemukannya tiga orang yang mirip dengan sketsa wajah rancangan polisi. Sketsa itu sudah disebar ke seluruh Indonesia.

Padahal, kata Nico, penyidik sudah menindaklanjuti sekitar 200 sampai 300-an informasi---dari sekitar 1400-an informasi via telepon dari masyarakat soal keberadaan orang yang mirip sketsa tersebut.

"Sebetulnya sudah kuat, tapi orangnya belum ketemu. Karena gambaran pelaku kan mengerucut ke tiga orang itu. Maka tugas kami cari orang tiga orang itu. Ada orang menyampaikan informasi, 'Pak sepertinya saya lihat orang itu'. Tapi begitu kami cek, kami datangi ternyata bukan," ucapnya.

Sebelumnya, salah satu pengacara Novel Baswedan, Haris Azhar mengatakan Novel mulai meragukan keseriusan polisi mengusut kasus teror yang menimpanya. 

Novel Baswedan mengungkapkan adanya keterlibatan jenderal polisi aktif, dalam teror yang menimpanya.  

Anggota tim pengacara Novel lainnya, Dahnil Anzar menyebut Novel berjanji mengungkap berbagai keganjilan dalam kasus penyiraman air keras yang dialaminya. Namun keganjilan itu hanya akan disampaikan bila sudah ada Tim Gabungan Pencari Fakta.

"Isi orang-orang di TGPF itu tentu adalah mereka-mereka yang independen, mereka-mereka yang kredibilitasnya bisa dipercaya. Sejak awal Pak Presiden sudah mengatakan bahwa beliau akan memimpin upaya pemberantasan korupsi. Tentu kami semuanya, termasuk Novel, dan Novel kemarin sudah tegas menyatakan, 'Kalau ada TGPF, saya akan ngomong semuanya, secara terang benderang'," kata Dahnil di Kantor PP Muhammadiyah, Rabu (26/7/2017).

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.