Share This

Menko Maritim Kritik Cara Berpikir Para Menteri

"Berpikir kita terlalu terkotak-kotak. Mungkin karena saya tentara, saya lama di Kopassus. Saya berpikir kita tidak bisa penyelesaian operasi itu hanya oleh satu orang," kata Luhut.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 01 Feb 2018 20:16 WIB

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi PT INKA di Madiun, Jawa Timur, Kamis (18/1/2018). (Foto: ANTARA/Siswowidodo)

KBR, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengkritik cara berpikir keseluruhan menteri dalam tiga tahun terakhir ini yang dianggap terlalu sektoral. 

Luhut mengatakan dalam menyelesaikan persoalan, semestinya kementerian duduk bersama karena masalahnya saling berkaitan.

"Satu temuan saya selama tiga tahun saya melihat, kita tidak melihat secara holistik penanganan masalah. Kita terlalu sektoral melihat masalah. Padahal itu gampang bacanya. Publik itu banyak kritik saya, 'Pak Luhut kenapa ngurusin ini ngurusin itu? Lah, kalau saya bicara perhubungan sama Pak Budi, pasti saya akan terlibat dengan Kemenkeu, Bappenas, ATR, KLHK. Duduklah, supaya bisa penyelesaian terintegrasi," kata Luhut di Gedung Maritim, Kemenhub, Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Luhut mencontohkan, salah satu perusahaan BUMN PT INKA berhasil menciptakan kualitas kereta api yang tak kalah dengan kereta buatan perusahaan Korea Selatan Hyundai. Tetapi, kata Luhut, kalau PT INKA tidak didukung kementerian lain, maka kereta itu hanya istimewa di negeri sendiri.

"Sama saja dengan kereta api itu. Saya bilang harus ada integratornya. Kalau tidak diintegrasikan nggak akan jalan," kata Luhut.

"Berpikir kita terlalu terkotak-kotak. Mungkin karena saya tentara, saya lama di Kopassus. Saya berpikir kita tidak bisa penyelesaian operasi itu hanya oleh satu orang. Makanya saya mendesain Kopassus ada spesialisasi. Itu di zaman saya," kata Luhut. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.