Menkopolhukam: Terorisme Tak Bisa Dihilangkan

"Terorisme tidak akan habis, hanya akan membesar dan mengecil. Kita buat sekecil mungkin sehingga tidak bisa berkembang"

BERITA , NASIONAL

Kamis, 17 Jan 2019 21:22 WIB

Author

Friska Kalia, Heru Haetami

Menkopolhukam: Terorisme Tak Bisa Dihilangkan

Ilustrasi terorisme

KBR, Jakarta - Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, Wiranto menyebutkan terorisme di negara ini tidak bisa dihilangkan. Terorisme di suatu negara hanya bisa diperkecil jumlahnya.

"Terorisme tidak akan habis, hanya akan membesar dan mengecil. Kita buat sekecil mungkin sehingga tidak bisa berkembang," katanya di Jakarta, Kamis (17/01/2019).

Wiranto mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga perlu bekerja sama dengan lembaga dan kementerian lain untuk menekan jumlah terorisme itu.

"Agar stabilitas keamanan dan politik bisa terjaga. Karena jika satu dari keduanya tidak berjalan baik negara akan kacau salah satunya yang disebabkan oleh terorisme, karena saat ini Indonesia sedang menghadapi situasi Pemilu 2019," tambahnya.

Sementara itu, Pengamat Terorisme yang juga mantan teroris Ali Fauzi Manzi mengatakan, kemungkinan aksi terorisme terjadi di Indonesia masih sangat besar.

Menurutnya banyak faktor yang menjadi pendukung besarnya kemungkinan aksi terorisme terjadi seperti masih adanya kesenjangan ekonomi, menyebarnya paham radikal di masyarakat serta masih kuatnya jejaring teroris lama.

"Harus dipikirkan bagaimana upaya yang akan dilakukan misalnya pembinaan bagi mereka yang di lapas (lembaga permasyarakatan), bagaimana setelah mereka keluar dari lapas. Karena tidak ada yang mampu menjamin di tahun mendatang tak ada lagi aksi teror," kata Ali Faizin.

Pengamat yang juga adik kandung Amrozi dan Ali Imron, terpidana Bom Bali ini mengatakan, paham terorisme di Indonesia saat ini sudah masuk pada level komplikasi.

Untuk itu, lanjut Ali Fauzi, pengendalian aksi terorisme tak bisa dilakukan satu lembaga saja.

Menurutnya pengendalian aksi terorisme harus dilakukan oleh lembaga lintas sektoral agar menujukkan hasil yang memuaskan.

"Proses rehabilitasi harus dilakukan bersama-sama dan dari berbagai lini. Tak hanya rehabilitasi secara pemikiran dan ekonomi tapi juga dari sisi ekonomi. Ketika mindset dan urusan perut aman, maka peluang untuk meminimalisir aksi teror cukup besar. Kalau memusnahkan aksi teror rasanya tak mungkin, paling tidak kita minimalisir," katanya.

Ali Fauzi juga mengingatkan Pemerintah untuk tak lengah dan tetap waspada mengamati berbagai pergerakan aksi teror, karena pola serangan saat lebih menggunakan pola serangan yang tak teroganisir.

"Dan ini akan menyulitkan upaya penangkapan dan deteksi dini," tambahnya.


Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.