4 Teknologi Ini Ancam Nasib Karyawan Bank

Di satu sisi, teknologi bisa meningkatkan kemudahan, kenyamanan, dan efisiensi bagi industri. Tapi di sisi lain, ia juga bisa mengikis peran manusia dan menghapus lapangan kerja.

RUANG PUBLIK , NASIONAL

Rabu, 23 Jan 2019 12:36 WIB

Author

Adi Ahdiat

4 Teknologi Ini Ancam Nasib Karyawan Bank

Ilustrasi petugas bank menghitung lembaran mata uang Rupiah. (Foto: Setkab.go.id)

KBR- Jaringan Komunikasi Serikat Pekerja Perbankan menyebut, dalam kurun dua tahun belakangan bank-bank dalam negeri telah memecat hingga sekitar 50.000 karyawan. Salah satu alasannya: karena para pekerja bank sudah bisa digantikan oleh teknologi. 

Penggunaan teknologi pada satu sisi memang bisa meningkatkan kemudahan, kenyamanan, dan efisiensi bagi industri. Tapi di sisi lain, teknologi juga bisa mengikis peran manusia dan menghapus lapangan kerja. Hal itulah yang tengah terjadi dalam industri perbankan Indonesia.

Berikut adalah contoh sejumlah teknologi di dunia perbankan, yang belakangan diketahui mengancam nasib para karyawannya.

1. ATM

Auto Teller Machine atau ATM sudah dikenal sejak tahun 1960-an di Inggris dan Amerika Serikat. Awalnya mesin ini hanya bisa melayani penarikan tunai dan transfer dana antar rekening saja. Tapi sekarang fungsinya sudah berkembang hingga melayani juga penyetoran tunai, pembayaran berbagai tagihan, dan bahkan mencetak buku tabungan.

Berbagai fungsi tersebut jelas sudah mencakup semua pekerjaan yang biasa ditangani para teller di kantor-kantor bank. Dengan begitu, seiring ketersediaan ATM yang semakin meluas, profesi teller pun berangsur-angsur semakin tidak dibutuhkan.

2. Internet Banking

Internet banking, atau umum disebut juga e-banking, sudah dikenal di Indonesia sejak akhir 1990-an. Dengan hanya menggunakan komputer atau smartphone yang terkoneksi internet para nasabah sudah bisa melakukan berbagai urusan seperti cek saldo, transfer, pembayaran tagihan bulanan, pengajuan kredit, dan lain sebagainya.

Bukan hanya kebutuhan personal, belakangan ini e-banking juga mampu melayani kebutuhan perusahaan seperti penggajian karyawan ataupun pengajuan kredit usaha. Nasabah pelanggan e-banking juga bisa mengakses informasi tentang berbagai produk keuangan seperti deposito, reksadana, atau investasi dengan mudah.

Teknologi ini tentunya mampu menggantikan peran teller, customer service, ataupun marketing yang biasa dipekerjakan kantor-kantor bank.

3. E-Wallet

Dengan teknologi e-wallet atau dompet elektronik, nasabah bisa menyimpan uang di sebuah akun digital dan melakukan berbagai transaksi dengan mudah. E-wallet bisa digunakan untuk belanja online, pembelian tiket kereta, akses gerbang tol serta pembayaran tagihan bulanan. Beberapa layanan e-wallet juga memungkinkan nasabah untuk melakukan penarikan tunai di ATM tanpa menggunakan kartu.

Layanan semacam ini tentu memberi nasabah pengalaman baru serta berbagai kemudahan yang tidak bisa diberikan oleh pegawai bank konvensional.

4. Digital Banking

Digital banking merupakan sistem teknologi perbankan yang tergolong masih jarang di Indonesia. Menurut keterangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini baru ada dua bank Indonesia yang mampu menerapkan digital banking secara utuh. Meskipun, kalau melihat trennya, penerapan teknologi ini tentu akan semakin meluas di masa depan.

Dalam digital banking berbagai urusan perbankan dilakukan secara paperless dan signatureless. Mulai dari penyetoran, penarikan, hingga pembukaan rekening baru semuanya bisa dilakukan dengan mudah lewat apps. Dengan begitu, nasabah sama sekali tidak memiliki keperluan untuk datang ke kantor bank.

Lapangan Kerja Perbankan Menyusut

Dalam artikel Penerapan Teknologi dan Pengaruhnya Terhadap Rekrutmen Lembaga Perbankan (Jurnal Lembaga Keuangan dan Perbankan, 2017), Nila Mardiah menjelaskan bahwa teknologi memang memegang peran signifikan bagi efisiensi perusahaan perbankan.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah bank besar di Indonesia bisa menghemat biaya operasional hingga 46% berkat teknologi. Penghematan tersebut terutama juga berasal dari pemangkasan biaya rekrutmen karyawan serta penutupan kantor-kantor cabang.

Temuan tersebut nampak sejalan dengan prediksi yang pernah diutarakan Vikram Pandit, Chief Executive dari Citigroup, bank investasi multinasional yang berbasis di Amerika. Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, ia menyebutkan bahwa dalam lima tahun ke depan 30% pekerjaan di bank akan mengalami kepunahan karena diakusisi oleh teknologi.

Jadi, di masa mendatang, industri perbankan mungkin tidak mampu lagi menyediakan lapangan pekerjaan untuk banyak orang.

(Dari berbagai sumber)

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.