Share This

Survei Wahid Foundation, Perempuan Lebih Dukung Kebebasan Beragama

"Perempuan sebagai kelompok strategis untuk menjadi agen perdamaian ini tergambar dalam hasil survei nasional potensi toleransi sosial keagamaan"

BERITA , NASIONAL

Senin, 29 Jan 2018 14:31 WIB

Survei Wahid Foundation, Perempuan Lebih Dukung Kebebasan Beragama

Ilustrasi (foto: Antara)

KBR,Jakarta- Perempuan Indonesia memiliki potensi besar menjadi agen perdamaian dunia. Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid  mengatakan hal itu  dilihat dari beberapa faktor yang sudah diamati dalam survei.

Alasannya kata dia,  di antaranya karena  lebih menolak  bersikap radikal dibanding laki-laki,   memiliki lebih sedikit kelompok yang tidak disukai dibanding laki-laki dan juga soal perspektif keagamaan, wanita dianggap lebih bebas.

“Perempuan sebagai kelompok strategis untuk menjadi agen perdamaian ini tergambar dalam hasil survei nasional potensi toleransi sosial keagamaan di kalangan perempuan muslim di Indonesia yang pada hari ini kita dengar bersama dan kita luncurkan. Salah satu temuannya adalah bahwa perempuan lebih banyak mendukung hak kebebasan menjalankan kebebasan  agama atau kepercayaan dibanding laki-laki. Jadi kalau perempuan angkanya 80,7 persen sementara laki-laki 77,4 persen,” ujar Yenny dalam pemaparannya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (29/01/2018).

Yenny juga memberi contoh dalam hal keikutsertaan perempuan dalam kelompok radikal, Indonesia terbilang negara yang sangat minim menyumbang perempuan ke Suriah. Kata dia, walaupun Indonesia merupakan negara dengan komunitas muslim terbesar hanya ratusan orang yang tertarik ikut dalam   dibanding  negara lain. Kata dia itu karena   perempuan Indonesia telah banyak berpikir maju tentang perdamaian.

Meski begitu kata  Yenny masih menemukan banyak kendala seperti rendahnya perempuan dalam mengambil keputusan, minimnya dukungan laki-laki untuk mendukung perempuan memiliki kesetaraan.

“Peran pemberdayaan perempuan itu masih rendah dalam mengambil keputusan misal, dalam memilih hak bekerja atau tidak bekerja, menentukan pasangan dan lainnya, bahkan di bangku parlemen perempuan masih sangat kurang mendapat tempat. Belum lagi terbentur masalah kultur dan sebagainya,” ujar Yenny.

Kata dia, walau Indonesia termasuk negara yang sedikit terpengaruh penyebaran radikalisme karena   peran perempuan, namun tingkat intoleransi di Indonesia masih sangat tinggi. Itu sebab  Wahid Foundation berupaya mendorong perempuan menjadi agen perubahan untuk menyebarkan ajaran toleransi.

“Intoleransi masih tinggi, maka kami sedang mengembangkan program untuk membangun jaringan Indonesia untuk menyebarkan toleransi dengan bantuan perempuan melalui pemberdayaan ekonomi. Ini didedikasikan untuk kesetaraan gender. Maka dari itu kami sudah menginisiasi 30 desa untuk jadi kampung damai di Jawa Barat, Jawa Timur dan lainnya, kami juga sudah melibatkan ribuan perempuan untuk menjadi agennya, dengan harapan perempuan berhasil menjadi agen perdamaian.” Ujarnya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.