Jelang Deadline, Tim KLHS Telusuri Goa di Pegunungan Karst Kendeng

Selama dua hari, Kamis hingga Jumat (12-13 Januari 2017), tim datang ke Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem Rembang untuk melakukan observasi dan identifikasi keberadaan mata air, ponor dan goa.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 13 Jan 2017 11:28 WIB

Author

Noni Arni

Jelang Deadline, Tim KLHS Telusuri Goa di Pegunungan Karst Kendeng

Tim KLHS blusukan ke gua di kawasan pegunungan karst Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (12/1/2017). (Foto: KBR)

KBR, Rembang - Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) melakukan 'blusukan' ke kawasan Pegunungan Kendeng, di Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Tim ini menelusuri kawasan perbukitan batu hingga ke goa, untuk mencari data primer di kawasan Pegunungan Kendeng.

Penelusuran itu dilakukan menjelang tenggat waktu bagi pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menyikapi keputusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung tentang pencabutan izin lingkungan perusahaan PT Semen Gresik (yang kemudian berubah menjadi PT Semen Indonesia) di Rembang, pada 17 Januari 2017.

Selama dua hari, Kamis hingga Jumat (12-13 Januari 2017), tim datang ke Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem Rembang untuk melakukan observasi dan identifikasi keberadaan mata air, ponor dan goa.

Tim KLHS tersebut berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kantor Staf Presiden (KSP), Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jawa Tengah, BLH Kabupaten Rembang serta sejumlah ahli dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Tim itu dipimpin pakar lingkungan yang juga bekas Rektor Universitas Diponegoro Prof Sudharto P Hadi serta Bowo Suryono, bekas Kepala Dinas Kehutanan Jawa Tengah yang kini mendapat penugasan bidang teknologi lingkungan Jawa Tengah.

Di hari pertama 'blusukan' pada Kamis (12/1/2017), Tim KLHS dibagi tiga tim untuk mendatangi tiga titik lokasi berbeda.

Titik pertama adalah mata air Sumber Sewu, Sumber Semen, Sendang Brubulan dan Sendang Nyimpik di wilayah Kecamatan Gunem.

Titik kedua yang didatangi Tim KLHS adalah areal pertambangan batu kapur milik PT Sinar Asia Fortuna (PT SAF) dan PT Indonesia Camcocrown Chemical Industry (PT ICCI) di Desa Gayam, Bogorejo.

Sebelum PT Semen Indonesia masuk ke wilayah Pegunungan Kendeng, terutama di Desa Tegaldowo, sejumlah perusahaan tambang sudah lebih dulu masuk ke wilayah ini seperti PT SAF, PT ICCI, PT Amir Hajar Kilsi dan tambang rakyat tradisional. Perusahaan-perusahaan tambang itu sudah beroperasi sejak belasan tahun lalu.

Titik ketiga yang didatangi tim KLHS adalah Goa Nglekir di Desa Jurangjero, Bogorejo yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Blora.

Reporter KBR, Noni Arni, mengikuti tim ketiga yang 'blusukan' ke Goa Nglekir. Goa ini berjarak satu jam dari Tegaldowo dengan medan perbukitan berbatu dan hamparan perkebunan jagung.

Dengan didampingi sembilan warga setempat, Tim III KLHS yang beranggotakan delapan orang itu melakukan pemetaan goa dengan mengidentifikasi pengukuran luasan, kedalaman, arah lorong hingga keberadaan ekosistem di goa sepanjang sekitar 150 meter tersebut.

Tim III berada di dalam goa selama kurang lebih 1,5 jam. Goa ini termasuk kategori pendek dengan lorong menyempit dan memiliki dua kolam dengan kedalaman sekitar dua meter. Muara goa menyempit dan hanya memiliki satu akses keluar masuk.

Di hari kedua, Jumat (13/1/2017), tim akan bergeser mengobservasi keberadaan Goa Wiyu dan Goa Menggah. Dua goa ini menjadi prioritas identifikasi karena menjadi salah satu ciri kawasan karst (batu kapur).

Selama dua hari ini, Tim KLHS bekerja berdasarkan pemetaan yang sebelumnya sudah dilakukan warga. Temuan dari Tim KLHS nanti dikumpulkan untuk menjadi bagian dari data yang nanti menjadi rekomendasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Karst Kendeng.

Kesimpulan ini juga menjadi bagian dari penentuan kebijakan terhadap izin tambang dan pengoperasian PT Semen Indonesia di Rembang.

Kawasan yang diobservasi itu selanjutnya akan dijadikan data primer untuk memperkaya data yang sudah ada, karena lokasi yang diidentifikasi ini belum pernah diobservasi tim Amdal PT Semen Indonesia.

Hasil dari temuan observasi ini rencananya akan disampaikan minggu depan oleh Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

Tim KHLS belum bersedia diwawancara karena masih mengumpulkan data. Mereka juga mengklaim belum memiliki kesimpulan terkait dengan ekosistem karst Kendeng.


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Erlin: Edutrip Hadir untuk Meningkatkan Minat Anak ke Museum

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Jumlah Korban Jiwa Akibat Infeksi Virus Corona di Cina Meningkat

Pemkot Balikpapan Menghimbau Warganya Agar Tak Ke Luar Negeri Sehubungan Virus Corona Wuhan