Penelitian: Berbicara Dua Bahasa Lebih Penting daripada Pendidikan

KBR68H, Washington - Sebuah studi di India meneliti dampak mengetahui lebih dari satu bahasa dalam menunda tanda-tanda pertama terjadinya beberapa gangguan kesehatan, termasuk penyakit Alzheimer, dan berbagai jenis penyakit demensia.

INTERNASIONAL

Rabu, 04 Des 2013 08:18 WIB

Author

Eva Mazrieva

Penelitian: Berbicara Dua Bahasa Lebih Penting daripada Pendidikan

penelitian, demensia, dua bahasa

KBR68H, Washington - Sebuah studi di India meneliti dampak mengetahui lebih dari satu bahasa dalam menunda tanda-tanda pertama terjadinya beberapa gangguan kesehatan, termasuk penyakit Alzheimer, dan berbagai jenis penyakit demensia. Para peneliti mempelajari hampir 650 orang yang rata-rata usianya 66 tahun. Dua ratus empat puluh orang di antara mereka menderita Alzheimer - bentuk paling umum penurunan kemampuan otak.

391 orang lainnya berbicara dua bahasa atau lebih. Para peneliti menemukan gejala demensia mulai terlihat sekitar empat setengah tahun kemudian pada orang-orang yang menguasai dua bahasa dibanding mereka yang berbicara hanya satu bahasa. Tingkat pendidikan tidak berpengaruh pada usia ketika orang mulai memperlihatkan gejala demensia.

Thomas Bak ikut mengadakan penelitian itu. Dia bekerja di Center of Cognitive Aging atau pusat studi penuaan kognitif di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Dia mengatakan orang-orang yang berbicara lebih dari satu bahasa melatih otak mereka dengan berulang kali menggunakan kata dan ekspresi yang berbeda.

Thomas Bak yakin upaya demikian meningkatkan apa yang oleh para ilmuwan disebut fungsi eksekutif atau perhatian pada tugas-tugas. Kemampuan mental ini sering melemah pada orang yang menderita demensia.

Para peneliti tidak mendapati adanya manfaat tambahan dari kemampuan berbicara lebih dari dua bahasa. Mereka juga tidak melihat adanya penundaan timbulnya tanda-tanda pertama yang penyakit demensia Lewy body, yakni kumpulan protein dalam sel syaraf yang menyebabkan pasien melihat atau mengalami hal-hal yang tidak nyata atau berhalusinasi. Penyakit ini juga dapat menyebabkan penderita mengalami gangguan tidur.

Thomas Bak mengatakan tampaknya tidak penting apakah orang belajar bahasa ketika masih kanak-kanak atau setelah dewasa.

Para ilmuwan menemukan berbicara lebih dari satu bahasa ikut menunda munculnya tanda-tanda pertama demensia bahkan pada mereka yang tidak bisa membaca. Sebuah artikel tentang manfaat pengetahuan dua bahasa dalam menunda munculnya gejala demensia ini diterbitkan bulan Desember dalam jurnal Neurology. (VOA)

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal