Anak-anak Kamboja Itu Bersekolah Tanpa Sarapan [2]

Makanan yang sudah matang lantas dioper ke panci-panci besar, lantas dibawa oleh siswa dari kelas yang lebih besar ke depan antrian anak-anak kecil yang makin lapar itu.

INTERNASIONAL

Minggu, 22 Des 2013 13:39 WIB

Author

Citra Dyah Prastuti

Anak-anak Kamboja Itu Bersekolah Tanpa Sarapan [2]

World Food Program di Kamboja, malnutrisi, US Ambassador for US Agencies, Angkor Wat

Dapur untuk memasak sarapan ini rupanya terletak di sekolah ini juga, di bagian belakang. Begitu kami ke belakang, sekitar 5 orang tengah sibuk di dapur. Dua orang sedang berkutat di hadapan dua kuali raksasa memasak sarapan pagi itu: nasi dengan sup sayuran dan ikan. 


Hah Hav, salah satu dari 3 koki di dapur, sebelumnya tak punya latar belakang ahli gizi sama sekali. Ia hanya mengikuti pelatihan yang dilakukan sekolah bagi siapa pun yang ingin membantu di dapur untuk program Sarapan di Sekolah ini. Sebagai imbalannya, Hah Hav mendapat insentif berupa beras dari WFP. 


Tanpa sarapan yang diolah Hah Hav dan teman-teman, maka anak-anak di sekolah ini hampir pasti belum sarapan di rumah masing-masing. 


Makanan yang sudah matang lantas dioper ke panci-panci besar, lantas dibawa oleh siswa dari kelas yang lebih besar ke depan antrian anak-anak kecil yang makin lapar itu. 


Pembagian sarapan pun dimulai. 


Berkat sarapan 


Saya lantas masuk ke beberapa kelas dan menikmati pemandangan indah di depan saya: anak-anak kecil yang lahap menikmati sarapan mereka. 


Ketika saya dekati mereka dengan kamera dan mikrofon, sebagian besar tampak malu-malu. Apalagi kalau saya mulai menyapa mereka. Mungkin mereka bingung, mengapa saya yang berwajah seperti orang Kamboja ini justru tak bisa bahasa Khmer. 


Saya mendekati gadis cilik yang duduk dekat jendela. Namanya Rorm Shrey Theab, usianya baru 6 tahun. Dia duduk di kelas 1. 


“Sarapannya enak,” katanya sembari tertunduk. 


Apalagi, di rumah pun tak ada sarapan. Orangtuanya yang bekerja sebagai petani, dengan 4 anak yang harus ditanggung, tak punya cukup uang untuk menyiapkan sarapan di rumah. 


Saya pindah ke kelas berikutnya, yaitu kelas 5. Di situ saya bertemu guru yang bernama Soam Nguon. Dia mengaku senang setiap kali sarapan dibagikan kepada anak-anak. 


“Anak-anak jadi bersemangat ke sekolah. Dulu banyak anak yang tidak  masuk sekolah, tapi mereka jadi tertarik ke sekolah karena ada sarapan gratis,” katanya. 


Soam Nguon menambahkan, orangtua pun ikut senang dengan progam ini. Pertama, karena mereka tak perlu keluar uang untuk menyiapkan sarapan. Kedua, karena mereka tak harus repot-repot memaksa anak ke sekolah... karena mereka semua tertarik dengan konsep sarapan bersama di sekolah. 


Jaring pengaman 


Meski program Sarapan dari WFP ini sudah berlangsung sejak 1999 di Kamboja, program ini baru berjalan di Wat Run Primary School sejak 5 tahun lalu. WFP memilih sekolah yang akan dibantu berdasarkan tingkat kemiskinan, jumlah murid serta angka putus sekolah di sana. Jika sekolah dianggap memenuhi kriteria, maka sekolah itu bakal didekati oleh WFP. 


WFP tentu tak sendirian memberi bantuan bagi sekolah. Pihak sekolah dan komunitas sekitar sekolah wajib membantu demi lancarnya program Sarapan ini. 


Pihak sekolah membantu dengan menyediakan dapur untuk memasak sarapan bagi ratusan muridnya. Juga menyediakan gudang untuk menampung suplai bahan makanan yang diberikan oleh WFP berupa beras, ikan kaleng, minyak dan garam. Suplai bahan makanan dari WFP ini lantas dikombinasikan juga dengan sayuran yang ditanam di sekolah sebagai elemen yang tak kalah penting dalam sarapan anak-anak. Sekolah kini punya kebun mini untuk menanam aneka sayuran. 


Komunitas di sekitar sekolah pun membantu dalam bentuk tenaga – seperti yang dilakuan Hah Hav dengan memasak. Warga juga bisa membantu dengan memberikan kayu untuk memasak, peralatan masak dan tenaga kerja untuk menurunkan suplai makanan dari WFP ke gudang sekolah. 


Sampai kapan?


Dukungan dari Pemerintah pun tak kalah penting sehingga program bisa berjalan lancar. Sampai saat ini, WFP masih terus memantapkan kerjasama dengan Pemerintah Kamboja untuk kelak siap meneruskan program Sarapan di Sekolah ini. Kabarnya, Pemerintah Kamboja bakal mengkampanyekan makan siang di sekolah sebagai sebuah program nasional demi mengatasi problem pendidikan yang terjadi. 


Tapi Ou Putt Savon, Deputi Direktur Pendidikan Siem Reap yang hadir di acara Sarapan di Sekolah pagi itu mengaku Pemerintah belum ada rencana yang jelas soal itu. 


Sementara kepala sekolah Seak Vuthy merasa belum siap jika tiba-tiba WFP meninggalkan mereka tanpa suplai bahan makanan untuk program Sarapan di Sekolah ini. 


Contoh dari Indonesia 


Indonesia juga punya program serupa dengan Sarapan di Sekolah, yang disebut dengan program Penyediaan Makanan Tambahan-Anak Sekolah atau PMT-AS. 


Program ini dimulai tahun 2010, hasil kerjasama Kementerian Pendidikan bekerjasama dengan 6 kementerian lainnya. Program ini menyediakan makanan tambahan untuk siswa TK-SD di 27 kabupaten yang masih miskin di Indonesia. Siswa mendapatkan makanan tiga kali seminggu. 


Di NTT, program PMT-AS ini menggunakan pangan lokal binaan World Food Program. Karena itulah tak heran kalau menu sarapan mereka adalah jagung, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar dan labu. 


Hasil penelitian LIPI pada 2012 menunjukkan kalah PMT-AS berbasis pangan lokal merupakan model yang efektif dan ekonomis untuk mengatasi kelaparan jangka pendek serat meningkatkan kehadiran murid di sekolah dan meningkatkan daya konsentrasi mereka. 


US Ambassador for UN Agencies in Rome David Lane sepakat juga kalau perlu ada semacam program transisi untuk menyiapkan sekolah mengambil alih kendali program Sarapan di Sekolah. Ia sendiri mengaku sangat terkesan dengan program tersebut dan bagaimana program ini berdampak pada kehidupan anak-anak. 


“Tanpa itu, tak ada keberlanjutan yang jelas dari program ini,” kata Lane mengingatkan. 


Barangkali Kamboja bisa mencontoh Indonesia dengan menggunakan pangan lokal untuk suplai bahan makanan di program Sarapan di Sekolah mereka. 


*Citra Dyah Prastuti mengikuti kunjungan media yang dilakukan US Ambassador for UN Agencies in Rome David Lane ke Kamboja pada 8-13 Desember 2013. 


Foto-foto lengkap bisa Anda nikmati di Mereka Butuh Sarapan Untuk Belajar
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Terus Menginspirasi

Peran Wadah UMKM di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 7

Program Vaksinasi COVID-19 Tahap Kedua

Kabar Baru Jam 7