Anak-anak Kamboja Itu Bersekolah Tanpa Sarapan [1]

Tanpa sarapan, banyak anak-anak sekolah yang tak mampu mengikuti pelajaran atau bahkan pingsan di tengah kelas. Karena itulah sarapan dianggap sebagai langkah jitu untuk

INTERNASIONAL

Minggu, 22 Des 2013 13:37 WIB

Author

Citra Dyah Prastuti

Anak-anak Kamboja Itu Bersekolah Tanpa Sarapan [1]

World Food Program di Kamboja, malnutrisi, US Ambassador for US Agencies, Angkor Wat

Karena sarapan adalah makanan terpenting dalam sehari. 


Kamboja adalah salah satu negara di Asia dengan angka malnutrisi yang tinggi. Bahkan Kamboja termasuk 36 negara dunia yang punya beban paling besar akibat anak-anak kurang gizi. Ini bertolak belakang dengan pertumbuhan ekonomi negara ini yaitu sekitar 7 persen sejak 2010. 


Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya akses warga ke makanan yang sehat dan bergizi. 80 persen warga Kamboja masih tinggal di pedesaan dan seperempat di antara mereka masuk kategori miskin. Dari total populasi pun, sekitar 60 persen hanya punya sepetak tanah kurang dari 1 hektar untuk mencukupi hidup sehari-hari. Sebagian lagi kerja dengan menggarap sawah orang lain. 


Miskin = tak sarapan 


Karena itu juga, masih banyak anak-anak usia sekolah di Kamboja yang tak bersekolah lantaran orangtuanya tak mampu. Angka tidak naik kelas atau putus sekolah pun tinggi, terutama di daerah pedesaan. 


Sejak 1999, World Food Program di Kamboja telah memulai program School Meal Program alias Program Sarapan di Sekolah di ratusan sekolah di 12 provinsi di Kamboja (dari total 24 provinsi). Tujuan utama program ini adalah memberi sarapan kepada murid-murid sekolah. Program ini dimulai lantaran banyak anak Kamboja yang ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu di rumah – besar kemungkinan karena orangtua mereka miskin. Sekitar 90 persen warga Kamboja di pedesaan hidup dari bertani, dan sebagian besar menggarap sawah orang lain. 


Tanpa sarapan, banyak anak-anak sekolah yang tak mampu mengikuti pelajaran atau bahkan pingsan di tengah kelas. Karena itulah sarapan dianggap sebagai langkah jitu untuk ‘memancing’ anak-anak untuk masuk sekolah. 


SD Wat Run di Siem Reap 


Dalam kunjungan media bersama US Ambassador for US Agencies in Rome David Lane ke Kamboja awal Desember lalu, kami mengunjungi Wat Run Primary School di Run Taek commune, distrik Banteay Srey. Ini terletak di Provinsi Siem Reap – tempat Angkor Wat yang tersohor berada. Jaraknya dari pusat kota Siem Reap sekitar 30 kilometer... dengan kondisi yang jauh dari hingar bingar kota. 


Jalan menuju ke sana masih tanah dan bergelombang sehingga perjalanan menjadi agak terhambat. Bisa dibayangkan betapa sulitnya datang ke sekolah jika musim hujan tiba. Sekolah ini sepintas terlihat seperti sekolah negeri di pelosok Indonesia – lengkap dengan suasana kumuhnya. Sekolah ini juga ada dua shift yaitu pagi dan sore demi menampung banyaknya siswa. 


Anak-anak sekolah di sini memakai seragam, meski tentu tak semuanya dalam kondisi yang kinclong. Banyak pula yang tak bersepatu. Banyak di antara anak-anak sekolah ini yang putus sekolah ketika sudah di kelas 3 atau 4, lantas bekerja membantu orangtua mereka. 


Ketika kami tiba pukul 06.30, ratusan anak-anak sudah berbaris rapi di depan kelas masing-masing. Setiap anak juga sudah membawa mangkok kosong berikut sendok. Mereka menanti sarapan segera dibagikan. 


Wajah-wajah lapar itu mulai tak sabar. 


Dapur makanan sehat 


Harum masakan langsung semerbak tercium.


Bersambung ke Anak-anak Kamboja [2]

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kesiapan Mental sebelum Memutuskan Menikah

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia