Karyawan Google di Seluruh Dunia Protes Penanganan Pelecehan Seksual

Para karyawan menuntut beberapa perubahan kunci dalam penanganan perusahaan atas laporan pelanggaran seksual, terutama terhadap karyawan wanitanya.

INTERNASIONAL

Jumat, 02 Nov 2018 12:05 WIB

Author

Angelina Legowo

Karyawan Google di Seluruh Dunia Protes Penanganan Pelecehan Seksual

Aksi protes di markas Google di Mountain View, California. (Foto: Reuters/BBC)

KBR, Jakarta - Ratusan karyawan Google berkumpul di London, untuk memprotes penanganan perusahaan terhadap pelecehan seksual yang terjadi pada karyawan wanita, Kamis (1/11/2018). Tak Hanya di New York, aksi protes disertai mogok kerja juga dilakukan karyawan Google di beberapa kota di seluruh dunia, seperti Dublin, Singapura, Tokyo, Berlin, Zurich, dan kota-kota besar  lainnya.

Para karyawan menuntut beberapa perubahan kunci dalam penanganan perusahaan atas laporan pelanggaran seksual, terutama terhadap karyawan wanita. Mereka juga meminta agar arbitrase secara paksa diakhiri, sehingga memungkinkan para korban untuk menuntut dan mengajukan banding. Arbitrase paksa, merupakan kontrak umum untuk pekerja Silicon Valley, yang menuntut setiap sengketa ditangani secara internal dan bukan melalui metode lain seperti pengadilan.

Kemarahan tersebut menyusul laporan The New York Times yang menuduh Andy Rubin, seorang eksekutif di Google, menerima insentif sebesar 90 juta dolar atau sekitar Rp 1,3 triliun setelah dia meninggalkan perusahaan. Padahal Google sendiri mengakui kalau Rubin telah melakukan pelanggaran seksual. Meskipun begitu, Rubin tetap menyangkal tuduhan yang dijatuhkan kepadanya.

Menganggapi aksi karyawan Google, Kepala Eksekutif Sundar Pichai menyatakan dukungannya kepada seluruh karyawan Google lewat pernyataan yang dikirimkan lewat surel.

"Saya memahami kemarahan dan kekecewaan yang Anda rasakan. Saya sepenuhnya berkomitmen untuk membuat kemajuan pada masalah yang telah berlangsung terlalu lama di lingkungan kita," katanya, seperti dikutip BBC, Jumat (2/11/2018).

Pichai juga mengatakan, meskipun telah memberikan insentif kepada Rubin, setidaknya sudah ada 48 karyawan lainnya yang dipecat karena pelecehan seksual selama dua tahun terakhir. Mereka juga tidak menerima pembayaran apapun.

The Tech Workers Coalition, sebuah kelompok advokasi yang berbasis di San Francisco, mengatakan perselisihan mengenai perlakuan terhadap perempuan hanyalah salah satu dari beberapa hal yang perlu ditangani oleh perusahaan-perusahaan teknologi.

Selain memprotes masalah penanganan terhadap pelanggaran seksual yang terjadi, tahun lalu, karyawan Google juga menentang kerjasama perusahaan dengan Departemen Pertahanan AS, serta rencananya untuk memasuki kembali pasar China dengan produk mesin pencari khusus.

Mereka juga telah mengajukan tuntutan formal kepada manajemen Google. Tuntutan-tuntutan tersebut di antaranya, untuk mengakhiri kesenjangan gaji dan kesempatan, keterbukaan laporan pelecehan seksual, menaikan posisi Chief Diversity Officer agar dapat memberikan rekomendasi langsung kepada dewan direksi, serta mengakhiri arbitrase paksa dalam kasus-kasus pelecehan dan diskriminasi bagi semua karyawan.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18