Di Negara Maju, Kematian Pria Akibat Penyakit Kanker Kulit Tinggi

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control) Amerika Serikta, lebih dari 90 persen kanker melanoma disebabkan oleh kerusakan sel kulit akibat paparan sinar matahari, atau sumber radiasi ultraviolet lainnya seperti tanning beds (mencok

INTERNASIONAL

Senin, 05 Nov 2018 11:07 WIB

Author

Yogi Ernes

Di Negara Maju, Kematian Pria Akibat Penyakit Kanker Kulit  Tinggi

Para pria di negara-negara maju terancam terjangkit penyakit kanker kulit (Foto: Tommy Tonn)

KBR, Jakarta – Kematian akibat kanker kulit bagi banyak pria telah meningkat di negara-negara maju sejak 1985. Berbanding terbalik dimana jumlah perempuan yang meninggal akibat kanker kulit di negara maju cenderung menurun. Pendapat tersebut dikatakan oleh para peneliti di sebuah konferensi media di Glasgow awal bulan ini.

Dorothy Yang, seorang dokter di rumah sakit Royal Free London mengatakan jika kebiasaan laki-laki di negara maju yang melindungi diri dari matahari menjadi penyebab mereka terkena resiko kanker kulit lebih tinggi dibanding perempuan.

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control) Amerika Serikta, lebih dari 90 persen kanker melanoma disebabkan oleh kerusakan sel kulit akibat paparan sinar matahari, atau sumber radiasi ultraviolet lainnya seperti tanning beds (mencoklatkan kulit).

Di delapan dari 18 negara yang diperiksa, tingkat kematian kanker kulit pria telah meningkat dalam 30 tahun terakhir, kenaikannya rata-rata mencapai hingga 50 persen. Bahkan di Irlandia dan Kroasia, jumlahna bisa dua kali lipat.

Beberapa negara yang juga mengalami lonjakan tajam kematian pria akibat kanker kulit adalah Spanyol dengan kenaikan 70 persen, Belanda 60 persen, lalu diikuti oleh Prancis dan Belgia dengan masing-masing 50 persen. Di Amerika, kematian laki-laki akibat kanker kulit naik sekitar 25 persen.

Namun sebuah penelitian menunjukkan, negara-negara yang mengalami kenaikan terbesar dalam kematian akibat kanker kulit tidak selalu berarti mereka menjadi negara dengan tingkat kematian paling tinggi akibat penyakit tersebut.

Dorothy Yang, salah satu peneliti pada National Cancer Research Institute Conference 2018 mengungkapkan, Australia adalah contoh di mana tidak ada korelasi antara kenaikan besar akibat penyakit kanker kulit terhadap tingkat kematiaannya.

“Di Australia, hampir enam dari tiap 100.000 orang menyerah pada penyakit medio 2013-2015. Jumlah itu dua kali tingkat kematian tertinggi kedua setelah Finlandia, tetapi jumlah itu menunjukkan kenaikan hanya 10 persen dibandingkan 30 tahun sebelumnya,” ucap Yang dikutip dari The Guardian.

“Australia telah menjadi pelaksana awal kampanye media kesehatan masyarakat sejak tahun 1970-an untuk mempromosikan perilaku “cerdas matahari,” sambungnya lagi.

Saat ini, menurut Yang, banyak ilmuwan yang sedang melakukan penelitian apakah faktor biologis atau genetik mungkin juga memainkan peran dalam kanker kulit. Tetapi temuan yang sudah dihasilkan belum dapat disimpulkan.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.