Malaysia Siapkan Jasa Konseling untuk Warga Korban Perbudakan di London

KBR68H - Pemerintah Malaysia menjanjikan bantuan untuk warganya yang telah menjadi korban perbudakan selama 30 tahun di London.

INTERNASIONAL

Kamis, 28 Nov 2013 07:36 WIB

Author

Irvan Imamsyah

Malaysia Siapkan Jasa Konseling untuk Warga Korban Perbudakan di London

budak, malaysia, london, jasa konseling

KBR68H - Pemerintah Malaysia menjanjikan bantuan untuk warganya yang telah menjadi korban perbudakan selama 30 tahun di London. Sang korban yakni Siti Aishah Abdul Wahab yang pergi untuk belajar di Inggris sekitar 1968 dan keluarganya kehilangan jejaknya setelah itu. Siti yang berusia 69 tahun merupakan satu dari tiga perempuan yang keluar pada Oktober lalu dari sebuah rumah di Selatan London.

Kisah perbudakan di London tersebut telah mengejutkan dunia dan di Malaysia curahan dukungan untuk Siti Aishah terus bermunculan. Tapi meski telah terbebas dari jerat perbudakan, Siti tampaknya tak ingin ditemukan. Bahkan dia dilaporkan menolak tawaran bantuan dari Kementerian Luar Negeri Malaysia.

Sementara Menteri Pemberdayaan Masyarakat, Keluarga dan Perempuan Malaysia Rohani Abdul Karim mengatakan kalau korban perbudakan akan selalu punya rumah di Malaysia. Pemerintah Malaysia juga akan menyediakan jasa konseling bagi Siti Aishah untuk kemudian akan diberikan fasilitas tempat penampungan karena sudah tua.

Tak banyak yang diketahui pemerintah Malaysia dari Siti dan dua tawanan budak wanita lain yang berasal dari Inggris (30 tahun) dan wanita Irlandia (57 tahun). Aishah diketahui berasal dari keluarga besar dari 12 bersaudara. Saat berusia 20-an, dia pergi ke Inggris di mana dia bertemu dengan pasangan suami - istri yang ditangkap sehubungan dengan kasus ini. Aravindan Balakrishnan dan rekannya Chandra aktif dengan gerakan komunis pada 1970-an dan sekarang bebas dengan jaminan sampai 2014.

Sementara keluarga Aishah mengklaim dia hilang pada akhir 1960 setelah bergabung dengan sebuah sekte Maois di London. Sekarang keluarga sangat ingin dia bertemu kembali dengan Aishah. Pemerintah Malaysia pun menyatakan sedang berupaya mencegah peristiwa serupa terjadi kemudian hari. Penderitaan Aishah menjadi cahaya dan penanda Hari Internasional untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. (AFP, CNA)

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

What's Up Indonesia

Kabar Baru Jam 8

10 Anak Tersangka Kerusuhan 22 Mei Layak Mendapat Diversi

Kabar Baru Jam 7

News Beat