Trump Akan Potong Bantuan Ke Honduras, Jika Konvoi Ribuan Migran Tak Dihentikan

Donald Trump mengancam akan memotong bantuan ke Honduras, jika pemerintah Honduras tidak menghentikan sekitar 2.000 migran yang ingin mencapai perbatasan AS, melalui Guatemala.

BERITA , INTERNASIONAL

Rabu, 17 Okt 2018 14:58 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Trump Akan Potong Bantuan Ke Honduras, Jika Konvoi Ribuan Migran Tak Dihentikan

Rombongan migran Honduras tiba di perbatasan antara Honduras dan Guatemala, di Agua Caliente, Guatemala 15 Oktober 2018. (Foto: REUTERS / Jorge Cabrera)

KBR - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam bakal memotong bantuan ke Honduras, jika pemerintah negara itu tidak menghentikan sekitar 2.000 migran yang ingin mencapai perbatasan AS, melalui Guatemala.

Sekitar 160 migran mulai berangkat dari San Pedro, Honduras pada Jumat (12/10/2018). Sejak itu banyak orang bergabung secara spontan dengan hanya membawa beberapa barang. Seorang imam Guatemala memperkirakan lebih dari 2.000 migran diberi makan di tiga tempat perlindungan yang dikelola Gereja Katolik Roma.

Rombongan migran itu menimbulkan respons yang keras dari Trump. "Amerika Serikat telah memberi tahu Presiden Honduras bahwa jika rombongan besar orang-orang yang menuju ke AS tidak dihentikan dan dibawa kembali ke Honduras, tidak ada lagi uang atau bantuan yang akan diberikan ke Honduras, efektif segera," tegas Trump dilansir dari Washington Post, Selasa (16/10/2018).

Namun, kemampuan negara Amerika Tengah tampak terbatas, ketika para migran telah menyeberang ke Guatemala pada Senin (15/10/2018). Para migran itu dua kali berhasil melewati sejumlah polisi yang dikirim untuk menghentikan mereka. Pertama di perbatasan dan kemudian di blokade jalan di luar Esquipulas, Guatemala.

Ketika para migran tiba di perbatasan selatan Meksiko, otoritas imigrasi Meksiko memperingatkan bahwa hanya migran yang memenuhi persyaratan yang diizinkan masuk ke negara itu.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Honduras menuduh adanya 'sektor politik' yang tidak teridentifikasi yang mengatur rombongan dengan 'janji palsu' tentang visa transit melalui Meksiko dan kesempatan untuk mencari suaka di Amerika Serikat.

Salah satu migran dari negara bagian Copan, Honduras barat, Jose Francisco Hernandez (32) mengatakan bahwa di Honduras tidak ada pekerjaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Kami tidak bisa pergi ke kota karena penuh dengan anggota geng, dan itu menyakiti kami. Kami memutuskan untuk bermigrasi dari negara untuk melihat apakah kami dapat menemukan kehidupan yang lebih baik," cerita Jose Fransisco Hernandez.

Para migran berharap perjalanan yang dilakukan secara massal ini dapat memberi mereka perlindungan dari perampokan, penyerangan, dan bahaya lainnya yang bisa mengganggu perjalanan ke utara.

Seiring berjalannya waktu, kerumunan orang terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil karena beberapa orang berjalan lebih cepat dan yang lainnya tertinggal di belakang.

Pekan lalu, Wakil Presiden AS Mike Pence mendesak para pemimpin di Honduras, El Salvador dan Guatemala untuk membujuk warga mereka agar tinggal di rumah dan menghindari perjalanan panjang dan berisiko ke Amerika Serikat.

"Tidak ada lagi bantuan jika rombongan migran tidak berhenti. AS tidak akan mentoleransi pengabaian yang mencolok ini untuk perbatasan & kedaulatan kami," tulis Pence dalam Twitter kepada Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez, Selasa (16/10/2018).

Pence juga menulis cuitan di Twitter untuk Presiden Guatemala Jimmy Morales

"Menegaskan batas-batas kita dan kedaulatan harus dipertahankan. Kami mengharapkan mitra kami untuk melakukan semua yang mereka bisa untuk membantu & menghargai dukungan mereka."

Sejak 2014, Amerika Serikat telah memberikan bantuan senilai $ 2,6 miliar atau Rp49,4 triliun untuk Honduras, Guatemala, dan El Salvador.

Dan untuk 2019, Washington telah mengalokasikan $ 65.7 juta atau Rp997 miliar bantuan ke Honduras untuk keamanan, pembangunan demokrasi, hak asasi manusia dan program pembangunan ekonomi dan sosial.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.