Kekerasan Sektarian Melanda Burma

KBR68H, Washington - Di Burma, kekerasan sektarian terbaru minggu ini antara kaum Budha dan Muslim menghidupkan kembali keprihatinan bahwa negara itu tidak cukup bertindak untuk mengurangi ketegangan yang merusak citra bangsa.

INTERNASIONAL

Jumat, 04 Okt 2013 07:42 WIB

Author

Nurviana Mubtadi

Kekerasan Sektarian Melanda Burma

kekerasan sektarian, burma, buddha, islam

KBR68H, Washington - Di Burma, kekerasan sektarian terbaru minggu ini antara kaum Budha dan Muslim menghidupkan kembali keprihatinan bahwa negara itu tidak cukup bertindak untuk mengurangi ketegangan yang merusak citra bangsa.

Para saksi mengatakan bentrokan sektarian melanda desa Hta Pyu Chai sewaktu warga Budha membakar sebagian besar lingkungan Muslim.

Ketika Tun Tun Naing usia 17 tahun keluar dari persembunyian, ia mendapati jenazah ayahnya di kubangan dekat masjid desa itu yang masih terbakar.

Ayahnya Khin Naing ditebas sampai tewas dengan golok, dibunuh oleh warga Budha yang datang dari kota dan membakar rumah-rumah warga Muslim sehari sebelumnya.

Desa itu hanya beberapa kilometer jauhnya dari apa yang dianggap sebagai  pantai wisata yang paling terkenal, dekat kota Thandwe.

Beberapa hari sebelumnya, para saksi mengatakan seorang politisi Muslim dari etnis Kaman bernama Kyaw Zan Hla terlibat perdebatan mengenai sepeda motor yang diparkir sembarangan. Ia kemudian ditangkap karena dianggap menghina warga Budha.

Warga Budha kemudian berkumpul, mempersenjatai diri dengan ketapel, golok dan senjata buatan lainnya dan menuju desa-desa Muslim di dekatnya dan mulai membakar sejumlah rumah.

Para saksi mengatakan mereka tidak mengenali gerombolan yang membakar puluhan rumah di tiga desa. Kekerasan itu tidak menarik perhatian para wisatawan yang tinggal di tempat-tempat peristirahatan tepi pantai di dekatnya. Seorang manajer hotel mengatakan tamunya bahkan tidak tahu mengenai bentrokan  itu.

Presiden Thein Sein melakukan kunjungan pertamanya ke negara bagian Rakhine sewaktu kekerasan itu terjadi. Ia mengunjungi Sittwe, Maungdaw dan Kyaukpyu dimana insiden serupa terjadi. Ia tiba di Thandwe 2 Oktober sementara desa-desa didekatnya terus terbakar. (VOA)

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Omnibus Law untuk Siapa?

Kabar Baru Jam 13

Mengimajinasikan Ibu Kota Baru yang Cerdas dan Berkelanjutan (Bagian 2)