Microsoft, Amazon, dan Google Bergabung Atasi Kelaparan

Bersama Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya, seperti PBB dan Komite InternasionaI Palang Merah (ICRC) mereka mengembangkan Mekanisme Aksi Kelaparan (FAM).

BERITA | INTERNASIONAL

Senin, 24 Sep 2018 13:04 WIB

Author

Angelina Legowo

Microsoft, Amazon, dan Google Bergabung Atasi Kelaparan

Ilustrasi. Bantuan makanan oleh badan amal setempat, di Sanaa, Yaman. (Foto: Hani Mohammed/AP/CTV News)

KBR- Perusahaan teknologi Microsoft, Amazon, Google, dan startup teknologi lainnya bergabung dalam sebuah koalisi global untuk mengatasi bencana kelaparan di negara-negara berkembang. Bersama Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya, seperti Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komite InternasionaI Palang Merah (ICRC), mereka mengembangkan Mekanisme Aksi Kelaparan (FAM).

“Kami membentuk koalisi global yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengatakan, ‘tidak lagi’(pada bencana kelaparan),” kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam sebuah pernyataan Minggu (23/09/2018), dikutip dari AFP.

Bank Dunia mengungkapkan, pada 2017 lalu lebih dari 20 juta orang di wilayah Nigeria, Somalia, Sudan Selatan dan Yaman menderita kelaparan. Sementara, 124 juta orang saat ini hidup dalam krisis tingkat kerawanan pangan, yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

FAM merupakan sebuah sistem yang didedikasikan untuk mendukung pencegahan, persiapan, dan tindakan dini dalam mengatasi kelaparan. Sistem ini dinilai dapat memprediksi daerah-daerah yang paling berisiko mengalami krisis pangan, sehingga dapat mencegah bencana kelaparan di masa datang.

“Jika kita dapat memprediksi lebih baik kapan dan di mana kelaparan akan terjadi, kita dapat menyelamatkan hidup dengan merespon lebih awal dan lebih efektif,” kata Presiden Microsoft Brad Smith, seperti dikutip AFP.

Untuk mendukung FAM, Google, Microsoft dan Amazon Web Services dan perusahaan teknologi lainnya mengembangkan seperangkat model analitik yang disebut ‘Artemis’. Artemis menggunakan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelegence) dan pembelajaran mesin (machine learning), untuk memprediksi krisis pangan yang memburuk. Prediksi ini dapat membantu pemerintah dan pihak lain seperti lembaga kemanusiaan merespon dengan lebih cepat, agar tidak berlanjut menjadi bencana kelaparan.

"Kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin memegang janji besar untuk meramalkan dan mendeteksi tanda-tanda awal kekurangan makanan, seperti gagal panen, kekeringan, bencana alam, dan konflik," kata Smith.

FAM akan mulai diterapkan di negara-negara kecil yang rentan terhadap krisis pangan, sebelum nantinya diterapkan secara global. Pihak-pihak yang mendukung inisiatif ini akan berkumpul dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali, Indonesia, pada 13 Oktober mendatang, untuk membahas implementasi lebih lanjut. (Mlk)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Sejumlah Daerah Protes Hasil Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Pancasila Merajut Keberagaman Indonesia

Kabar Baru Jam 13