16 Negara Pasifik Minta PBB Tinjau Kasus HAM di Papua

"Indonesia harus memahami bahwa ada keprihatinan mendalam (terhadap Papua)."

BERITA , NASIONAL , INTERNASIONAL

Jumat, 16 Agus 2019 17:31 WIB

Author

Adi Ahdiat, Sadida Hafsyah

16 Negara Pasifik Minta PBB Tinjau Kasus HAM di Papua

Papua dan negara-negara Pacific Island Forum (PIF) terletak di gugus kepulauan Melanesia. (Foto: Wikimedia Commons/Tintazulderivative/Cruickshanks)

KBR, Jakarta- Enam belas negara yang tergabung di Pacific Islands Forum (PIF) meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meninjau dugaan pelanggaran HAM di Papua.

PIF juga meminta pemerintah Indonesia supaya mengizinkan Komisioner HAM PBB masuk ke sana.

"Indonesia harus memahami bahwa ada keprihatinan mendalam (terhadap Papua), dan kami berharap pernyataan ini akan mendorong Indonesia bekerja sama dengan Komisioner Hak Asasi Manusia PBB, untuk memastikan bahwa kunjungan (PBB ke Papua) itu benar-benar terjadi," kata Menteri Luar Negeri Vanuatu Ralph Regenvanu dalam pertemuan tahunan PIF di Tuvalu, seperti diberitakan Radio New Zealand, Jumat (16/8/2019).

Baca Juga: Pemerintah dan Aktivis Saling Bantah Soal Konflik Nduga

Menurut lansiran Radio New Zealand, para pemimpin negara Pasifik mengakui kedaulatan Indonesia atas Papua.

Namun, mereka prihatin atas laporan kekerasan dan dugaan pelanggaran HAM di Papua, yang juga termasuk dalam gugus kepulauan Melanesia.

Negara-negara Pasifik menyatakan akan mempertahankan dialog yang terbuka dan konstruktif dengan Indonesia. Negara-negara yang tergabung dalam Pacific Islands Forum (PIF) ini adalah:

  1. Australia
  2. Kepulauan Cook
  3. Federasi Mikronesia
  4. Fiji
  5. Kiribati
  6. Kepulauan Marshall
  7. Nauru
  8. Niue
  9. Palau
  10. Papua Nugini
  11. Samoa
  12. Selandia Baru
  13. Kepulauan Solomon
  14. Tonga
  15. Tuvalu
  16. Vanuatu

Indonesia tidak termasuk sebagai anggota, namun berstatus sebagai negara mitra dialog PIF sejak tahun 2001.


182 Orang Meninggal Sejak Konflik Pecah

Tim Investigasi Kemanusian Nduga, Papua sudah memverifikasi ada sebanyak 182 korban meninggal sejak terjadi konflik delapan bulan lalu. Data itu sudah disusun dalam laporan bertajuk dugaan korban kekerasan pelanggaran Hak Asasi Manusia di Nduga. 

Anggota Tim Investigasi Kemanusian Nduga, Theo Hesegem menjelaskan, timnya sudah berhasil masuk ke Nduga sebanyak tiga kali. Di sana, tim memperkuat data sambil menginvestigasi penyebab banyaknya warga meninggal.

"Daerah Nduga itu daerah yang memang sangat sulit, sangat dingin. Jadi meninggal karena dingin, juga meninggal karena lapar, juga meninggal karena sakit. Karena pelayanan kesehatan pada saat mengungsi itu tidak ada yang bisa menangani," jelas Theo (14/8/2019).

Anggota Tim Investigasi Kemanusian Nduga Theo Hesegem menuturkan, kebanyakan korban meninggal akibat terlalu lama hidup mengungsi ke hutan pasca-pecahnya konflik. 

Korban yang meninggal tersebar di sejumlah distrik seperti Mbua, Dal, Mbulu Yalma, Mugi, Yigi fan Nirkuri, hingga Mapenduma. Dari 182 orang korban meninggal, separuhnya adalah balita dan anak-anak.

 

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Didesak Cabut Izin Perusahaan Pembakar Lahan