Komunitas Punk Burma Dukung Muslim Rohingya

KBR68H- Komunitas punk identik dengan rambut jabrik, jaket kulit dan tato tengkorak serta musik rock. Komunitas ini juga dianggap sebagai kelompok pemberontak, anti kemapanan dan kerap kita temui di jalanan.

INTERNASIONAL

Rabu, 07 Agus 2013 10:48 WIB

Author

Suryawijayanti

Komunitas Punk Burma Dukung Muslim Rohingya

punk, rock, burma, rohingya

KBR68H- Komunitas punk identik dengan rambut jabrik, jaket kulit dan tato tengkorak serta musik rock. Komunitas ini juga dianggap sebagai kelompok pemberontak, anti kemapanan dan kerap kita temui di jalanan. Di Burma, komunitas punk juga berani bicara lantang menetang biksu yang diam atas kekerasan yang dialami muslim Rohingnya. Mereka geram dengan para biksu yang melakukan pembiaran atas konflik komunal yang berlangsung hingga saat ini.

"Jika mereka biarawan nyata, saya akan tenang, tetapi mereka tidak," kata Kyaw Kyaw, vokalis Rebel Riot yang mengecam kemunafikan agama dan gerakan anti-Muslim yang disebut “969.”

"Mereka adalah nasionalis, fasis. Tidak seorang pun ingin mendengarnya, tapi itu benar,"tegasnya.

Kaum biarawan radikal berada di garis terdepan dalam kampanye berdarah terhadap Muslim Rohingnya, dan hanya sedikit warga yang mayoritas beragama Buddha menentang langkah para biksu tersebut.

Bagi banyak orang, menjadi Buddhis merupakan bagian penting dari menjadi Burma, dan mereka adalah anggota yang paling dihormati masyarakat, tidak tercela. Warga Burma lebih bayak menyangkal dan percaya klaim jika Muslim adalah "orang luar" yang menimbulkan ancaman bagi budaya dan tradisi mereka.

"Diam adalah sama berbahayanya dengan massa yang meratakan masjid dan bersorak ketika Muslim diburu dan dipukuli sampai mati dengan rantai dan pipa logam,"ujar  Michael Salberg, Direktur Urusan Internasional Liga Anti-Penistaan yang berbasis di AS.

"Bukan pelaku yang menjadi masalah di sini, tapi penonton," katanya, menunjuk ke kondisi yang membuka jalan bagi Holocaust di Jerman dan genosida di Rwanda.

Setelah kekuasaan junta militer di Burma berakhir, perubahan demi perubahan terjadi di Burma, mulai dari membebaskan pemimpin oposisi Aung san Suu Kyi hingga menghapus sensor media.  Kebebasan yang sama juga telah memberikan suara untuk biksu seperti Wirathu, seorang pembicara karismatik dan pendukung 969. Ia menyerukan boikot toko-toko milik Muslim dan larangan menikah dengan perempuan dan laki-laki Muslim. Dia juga mengingatkan tingkat kelahiran yang lebih tinggi suatu saat akan membuat Muslim menjadi mayoritas di Burma.

"Semua yang saya dapat katakan adalah, orang harus melihat pada ajaran Buddha dan bertanya pada diri sendiri, apakah maksud itu semua?" kata Ye Ngwe Soe, vokalis 27 tahun No U Turn, bank rock punk paling populer di negara itu. Dia menulis lagu "Human Wars" setelah kekerasan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine mulai tumpah ke daerah lain.

"Ketika saya pergi ke beberapa daerah perkotaan, saya mendengar berbicara tentang 969, membenci Muslim, menjadi kekerasan. Seharusnya tidak seperti ini,"tambahnya.

Selama pemerintahan militer, komunitas kecil punk lebih banyak melakukan gerakan bawah tanah dalam menyuarakan aspirasinya,  seringkali di bangunan kosong, di rel kereta api atau secara pribadi. Sementara yang lain telah ditakut-takuti oleh ancaman penangkapan dan pemenjaraan, mereka berteriak tentang pelanggaran di tangan tentara dan bertanya mengapa pengusaha yang dekat dengan pemerintah semakin kaya sementara rakyat menderita.

Hari ini mereka memiliki medan pertempuran baru, yakni intoleransi agama. Dan mereka tidak akan menghindar.

Kyaw Kyaw, vokalis Riot Rebel mengatakan bahwa sementara ia tidak bisa mengubah dunia, atau Myanmar, atau bahkan Yangon, namun dia setidaknya dia bisa mempengaruhi orang-orang di sekelilingnya.

"Mereka bisa menangkap kami, kami tidak peduli," kata anak dari seorang perwira polisi ini. "Atau kita bisa diserang oleh kelompok tertentu. Kami tidak peduli, kami telah mempersiapkan diri untuk ini. Kami ingin menyuarakan pikiran kami."(huffingtonpost)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18