Warga Syiah Diusir Paksa, WNI di Canberra Kirim Surat kepada Presiden SBY

KBR68H

INTERNASIONAL

Rabu, 03 Jul 2013 15:35 WIB

Author

Doddy Rosadi

Warga Syiah Diusir Paksa, WNI di Canberra Kirim Surat kepada Presiden SBY

WNI di Canberra, kirim surat, Presiden SBY, warga syiah

KBR68H – Nasib warga Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur yang dipaksa untuk pindah ke Sidoardjo membuat sejumlah warga negara Indonesia di Canberra, angkat bicara. Mereka mengirimkan surat terbuka kepada Presiden SBY yang isinya memprotes tindak pengusiran tersebut. Berikut surat terbuka WNI di Canberra kepada Presiden SBY yang diterima KBR68H melalui surat elektronik

Kepada Bapak Presiden Republik Indonesia

Kami adalah warga Indonesia yang sedang menempuh pendidikan serta penelitian di Canberra, Australia. Pada pelbagai forum kami mendengar betapa Indonesia kini mengalami sejumlah kemajuan dalam banyak sekali bidang. Dan kami bangga dengan itu.

Tapi, Pak Presiden, di sela-sela kesibukan kami mengamati perkembangan Indonesia, tiba-tiba kami dikejutkan oleh berita tentang sekelompok warga negara yang diusir dari rumahnya. Mereka mengungsi berbulan-bulan akibat hilangnya rasa aman. Setelah itu, mereka pun harus kembali terusir dari tempat pengungsian mereka. Warga negara yang kebetulan berkeyakinan Islam Syiah itu masih berharap bisa kembali ke tanah kelahiran mereka, Sampang, Madura. Betapapun rumah-rumah mereka telah hangus terbakar, mereka ingin membangunnya kembali. Tapi ternyata mereka dipindahpaksakan ke rumah susun di Sidoarjo. Mereka semakin jauh dari tempat tinggalnya.
 
Kami tidak hanya prihatin, tapi juga teramat sedih. Sedih karena demokrasi Indonesia yang sedang bertumbuh ini harus ternoda oleh ketidakmampuan (tepatnya, ketidakmauan) negara melindungi sekelompok warganya yang ingin hidup dengan keyakinan sendiri. Dalam banyak survei, diketahui bahwa intoleransi di tengah masyarakat kian hari kian tinggi. Walau kami sadar bahwa ini bukan semata tanggung-jawab pemerintah, tapi juga tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama, pendidik, media, dan lain-lain, tapi inisiatif tertinggi tetap di tangan negara.
 
Untuk itu, kami, mahasiswa Indonesia di Canberra, meminta ketegasan pemerintah untuk:

1. Melindungi hak-hak kewargaan komunitas Syiah Sampang dan komunitas minoritas lain;

2. Memulangkan dan memberi rasa aman bagi warga Syiah yang ingin kembali membangun dan tinggal di rumahnya di Sampang;

3. Mengambil tindakan hukum yang tegas bagi siapapun yang merusak dan melakukan kekerasan terhadap warga Syiah Sampang;

4. Mengambil tindakan hukum yang tegas bagi siapapun yang dengan sengaja di hadapan publik menghasut dan melakukan syiar kebencian kepada suatu kelompok masyarakat, seperti komunitas Syiah;

5. Mengambil tindakan hukum yang tegas kepada aparat negara yang melakukan pembiaran terjadinya aksi kekerasan terhadap komunitas Syiah Sampang yang menyebabkan properti mereka rusak dan dua orang meninggal;

6. Melakukan kampanye yang massif tentang pentingnya toleransi hidup bermasyarakat melalui pendidikan, ceramah agama, pertemuan di lingkungan masyarakat, media, dan lain-lain.

Demikian dan terima kasih.
 
Canberra, 3 Juli 2013

Forum Solidaritas untuk Kebhinekaan

1. Sri Lestari Wahyuningroem (PhD Student, Dept of Political and Social Change, ANU)

2. Saidiman Ahmad (GradDip Student, Crawford School of Public Policy, College of Asia and the Pacific, ANU)

3. Henri Sitorus (Research Scholar/PhD Candidate Civil Society, Citizenship and Third Sector Research Group, ADSRI -Research School of Social Sciences, ANU).

4. Burhanuddin Muhtadi (PhD Student, Dept of Political and Social Change, College of Asia and the Pacific, ANU)

5. Frederika Korain (MAAPD Student,  School of Arts and Social Sciences, ANU)

6. Fajar Argo Djati (Master Student, College of Asia and the Pacific, ANU)

7. Br. Budi Hernawan, OFM (Postdoctoral Research Fellow Regulatory Institutions Network (RegNet), College of Asia and the Pacific, ANU)
 
8. Yulia Indri Sari (PhD Student, Crawford School of Public Policy, College of Asia and the Pacific, ANU)

9. Indri Sri Sembadra (Aktivis Perempuan)

10. Arianto Patunru (Fellow, ANU College of Asia and the Pacific)

11. Stella Hutagalung

12. Ariane Utomo (Research Fellow, ANU College of Arts and Social Sciences)

13. Didi Ahmadi (Master Student, Crawford School of Public Policy, ANU)

14. Fadliya (PhD student, Crawford School of Public Policy, ANU)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18