Share This

Amerika Serukan Tiongkok Hentikan Reklamasi Laut China Selatan

Dia meminta Tiongkok menghentikan reklamasi lahan dan militerisasi di wilayah sengketa tersebut.

BERITA , INTERNASIONAL

Jumat, 12 Jun 2015 11:39 WIB

Bendera Amerika. Foto: Antara

KBR - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ash Carter menemui seorang Jenderal Tiongkok, Fan Changlong dan kembali menyampaikan seruan negaranya yang meminta Negeri Tirai Bambu itu menghentikan reklamasi lahan di Laut Cina Selatan.

Pada pertemuan itu, Ash Carter sekaligus menekankan soal komitmen Pentagon memperluas kontrak militer dengan Tiongkok. Dalam pembicaraan dengan wakil Kepala Komisi Militer Pusat Tiongkok itu, Ash Carter meminta komitmen Tiongkok dalam pengembangan kerjasama militer yang berkelanjutan dan substantif.

Dia menekankan, kedatangannya itu untuk memperdalam kerjasama di berbagai bidang, termasuk kemanusiaan, penanggulangan bencana dan perdamaian. Carter mengungkapkan kekhawatiran Amerika akan ketegangan sengketa di Laut Cina Selatan.

Itu sebab, dia meminta Tiongkok menghentikan reklamasi lahan dan militerisasi di wilayah sengketa tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai resolusi perdamaian sesuai dengan hukum internasional. (CNA)

Editor: Sindu Dharmawan 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.