NSA Kumpulkan Data Percakapan Telepon Jutaan Pelanggan Verizon

Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat NSA mengumpulkan data telepon jutaan pelanggan operator Verizon, mematai warga sendiri. Perintah Mahkamah Pengawasan Intelijen Asing Amerika Serikat atas permintaan Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat FBI.

INTERNASIONAL

Kamis, 06 Jun 2013 14:36 WIB

Author

Agus Luqman

NSA Kumpulkan Data Percakapan Telepon Jutaan Pelanggan Verizon

Amerika Serikat | National Security Agency | NSA | intelijen |

KBR68H - Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat NSA (The US National Security Agency) mengumpulkan rekaman percakapan telepon dari jutaan pelanggan operator Verizon Communications.

Informasi itu berasal dari perintah rahasia pengadilan yang kemudian dipublikasikan situs koran The Guardian.

Perintah yang bertanda Sangat Rahasia itu dikeluarkan Mahkamah Pengawasan Intelijen Asing Amerika Serikat (US Foreign Intelligence Surveillance Court). Mahkamah meminta perusahaan Verizon, terutama unit Layanan Jaringan Bisnis untuk menyerahkan data elektronik, termasuk seluruh rekaman panggilan keluar setiap hari. Perintah itu harus dilakukan hingga 19 Juli mendatang.

Perintah Mahkamah itu ditanda tangani Hakim Roger Vinson. Surat perintah dikeluarkan Mahkamah atas permintaan dari Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat FBI. Data yang dibutuhkan adalah nomor asal dan nomor tujuan panggilan ke luar negeri, durasi percakapan dan frekuensi panggilan telepon. Namun perintah pengumpulan data itu tidak termasuk isi percakapan telepon.

Para pejabat di Gedung Putih maupun NSA menolak berkomentar tentang kabar ini. Begitu juga juru bicara Verizon Ed McFadden pun menolak berkomentar. Sementara pesaing terbesar Verizon, yaitu AT&T menolak menjawab apakah perusahaan itu juga mendapat permintaan serupa.

Kebijakan pengumpulan data penelfon itu mendapat kritikan luas dari masyarakat, terutama menyangkut privasi masyarakat karena dianggap melanggar Amandemen Pertama Konstitusi Amerika yang menyangkut hak asasi manusia.

Sejumlah pengamat menilai perintah pengadilan itu menjadi bukti nyata dari kebijakan badan intelijen Amerika Serikat yang tetap melanjutkan praktik memata-matai warga sendiri. Kebijakan ini sudah dimulai sejak Presiden George W Bush dan cukup kontroversial. (Reuters)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Sejumlah Kendala Vaksinasi Lansia

Kabar Baru Jam 8

Perkara Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika

Kabar Baru Jam 10