Julian Assange, Setahun Penantian di Kedutaan Ekuador

KBR68H - Ini barangkali bisa menjadi pemandangan unik. Bayangkan, pendiri situs WikiLeaks, Julian Assange tampil dalam busana rapi; mengenakan kemeja lengkap dengan dasi dan jaket. Namun tanpa sepatu. Tapi jika Assange tidak pernah melangkahkan kaki ke

INTERNASIONAL

Minggu, 16 Jun 2013 17:35 WIB

Author

Agus Luqman

Julian Assange, Setahun Penantian di Kedutaan Ekuador

London, Julian Assange, Ekuador, WikiLeaks

KBR68H - Ini barangkali bisa menjadi pemandangan unik. Bayangkan, pendiri situs WikiLeaks, Julian Assange tampil dalam busana rapi; mengenakan kemeja lengkap dengan dasi dan jaket. Namun tanpa sepatu.

Tapi jika Assange tidak pernah melangkahkan kaki ke luar kantor Kedutaan Besar Ekuador di London selama satu tahun, urusan sepatu tidak lagi penting. Begitu Associated Press menggambarkan kondisi Julian Assange, sosok di balik situs pembocor dokumen rahasia WikiLeaks.

Assange sempat melayani wawancara dengan AFP mengenai satu tahun kehidupannya yang aneh itu. Ia ibarat hidup dalam novel spionase. Ia diburu dunia internasional, termasuk Amerika Serikat, karena membeberkan dokumen-dokumen rahasia dari sejumlah negara.

Di tengah ketakutan dan menjadi target buruan, Assange, warga Australia berusia 41 tahun yang cukup lama menjalani hidup sebagai peretas komputer itu pun masuk ke Kedubes Ekuador di London, pada 19 Juni 2012.

Ia mengajukan suaka ke pemerintah Ekuador untuk menghindari ekstradisi ke Swedia atas tuduhan kejahatan seksual. Permintaan suaka pun dipenuhi Ekuador.

Jika ia diekstradisi ke Swedia, bisa jadi ia selanjutnya akan dikirim ke Amerika Serikat. Di Amerika, ia akan menghadapi tuduhan mempublikasikan ribuan data rahasia menyangkut perang Irak dan perang Afghanistan.

Namun, meski ia mendapat suaka dari Ekuador, ia tidak bisa keluar dari kantor Kedutaan. Karena setiap waktu ia bisa digelandang pemerintah Inggris. Inggris tidak mau menjamin keamanannya jika dikirim ke Ekuador.

Selama setahun ini, polisi London terus berjaga 24 jam di depan kantor Kedutaan. Mereka siap bergerak jika sewaktu-waktu Assange mencoba meninggalkan kantor Kedutaan.

"Anda bertanya bagaimana saya bertahan hidup dalam situasi yang sulit seperti terpenjara ini. Sesungguhnya, pikiran saya tidak terpenjara," kata Assange kepada AFP. "Lingkungan fisik di sini memang menyulitkan, tapi saya tetap bekerja setiap hari."

Aksinya bersama WikiLeaks mengguncang dunia, setelah WikiLeaks mempublikasikan catatan perang dan kabel diplomatik Amerika pada 2010. Ini menjadi kebocoran data rahasia Amerika Serikat terbesar saat ini. Data-data rahasia itu berasal dari seorang bekas pekerja CIA bernama Edward Snowden.

Snowden saat ini diasingkan di Hongkong. Ia menghadapi tuduhan kriminal. Dikhawatirkan Snowden akan menjalani masa-masa sulit seperti pembocor data untuk WikiLeaks lainnya, Bradley Manning.

Bradley Manning merupakan seorang tentara Amerika berumur 25 tahun. Ia disidang Mahkamah Militer Luar Biasa karena memberikan data-data perang dan kabel diplomatik pada WikiLeaks.

"Snowden menjadi contoh yang baik seorang pahlawan. Ia melakukan keberanian yang luar biasa. Apa yang tidak ingin kami lihat adalah, Snowden menjalani perlakuan seperti Bradley Manning---ditahan tanpa pengadilan, disiksa di penjara dan menghadapi ancaman penjara seumur hidup," kata Assange.

Apa yang ia inginkan saat ini adalah bisa meninggalkan London menuju ke Ekuador. Sayangnya, ia menganggap Inggris sudah melanggar hukum internasional karena mencegah dia pergi ke Ekuador sebagai seorang pengungsi. (AFP)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Mahkamah Konstitusi Gelar Sidang Perdana, Perselisihan Hasil Pemilu

10 Tahun UU Narkotika: Seperti Apa Implementasinya?

Sidang Perdana Sengketa Pemilu

Cek Fakta: Misleading Content KPU Panik

What's Up Indonesia