Konsultan Global McKinsey: Kerja Dari Rumah adalah 'New Normal'

"Berhentilah berasumsi bahwa cara-cara lama akan kembali."

BERITA | NASIONAL | INTERNASIONAL

Selasa, 19 Mei 2020 14:57 WIB

Author

Adi Ahdiat

Konsultan Global McKinsey: Kerja Dari Rumah adalah 'New Normal'

Polusi udara di kawasan gedung perkantoran Jl. MH. Thamrin, Jakarta, jauh berkurang berkat penerapan kerja dari rumah (3/4/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Presiden Jokowi mengajak masyarakat Indonesia bersiap hidup dalam kondisi new normal atau kenormalan baru. Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers terkait isu pelonggaran PSBB akhir pekan lalu (15/5/2020).

"Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini, itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru," kata Jokowi.

"Tapi, kehidupan yang berbeda itu bukanlah kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan. Kita kembalikan produktivitas kita dengan optimisme karena kita juga tetap menerapkan berbagai mekanisme pencegahan."

"Jaga jarak yang aman, kemudian cuci tangan setelah beraktivitas, pakai masker, ini penting. Jadi dalam tatanan kehidupan baru nanti, memang itu yang harus kita pegang," jelas Jokowi.


Kerja Dari Rumah Juga Termasuk 'New Normal'

Kevin Sneader, perwakilan dari lembaga konsultan global McKinsey & Company, menjelaskan lebih lanjut bahwa new normal itu bukan sebatas penerapan protokol kesehatan, tapi juga remote working, yakni kerja jarak jauh atau kerja dari rumah.

"Berhentilah berasumsi bahwa cara-cara lama akan kembali. Dan faktanya itu bukan masalah besar. Sebagian besar kalangan eksekutif yang kami ajak bicara justru senang dengan meningkatnya penerapan kerja jarak jauh," ujar Kevin di situs McKinsey (15/4/2020).

"Ada data-data yang menunjukkan bahwa sistem kerja jarak jauh bisa lebih memperlihatkan kontribusi karyawan dibanding sistem kerja tradisional yang cenderung mengutamakan kehadiran (di kantor)."

"Sistem ini (kerja jarak jauh) bisa melibatkan tenaga kerja yang lebih beragam, lebih kapabel, dan lebih bahagia. Misalnya, karena tidak mengharuskan orang bepergian, pekerjaan akan jadi lebih mudah diakses oleh para penyandang disabilitas. Sistem yang fleksibel ini juga sangat bermanfaat bagi orang tua tunggal dan mereka yang harus mengasuh. Perusahaan juga bisa memanfaatkan talenta yang lebih luas," jelas Kevin.

Selain berpotensi meningkatkan kinerja dan kebahagiaan pekerja, sistem kerja dari rumah juga berkontribusi besar dalam mengurangi emisi kendaraan, dan dengan begitu turut mencegah perubahan iklim.


Berita Terkait: McKinsey: Krisis Pandemi Covid-19 Serupa dengan Krisis Perubahan Iklim


Perkuat Digitalisasi

Meksi punya banyak potensi keuntungan, perwakilan McKinsey global Kevin Sneader mengakui bahwa saat ini sistem kerja dari rumah belum bisa diterapkan semua pihak.

"Sistem kerja jarak jauh juga membawa risiko. Di Amerika Serikat lebih dari 70 persen pekerjaan tidak dapat dilakukan di luar kantor," katanya.

Untuk mengatasi tantangan itu, Kevin mendorong perusahaan terus membuat inovasi sistem kerja dengan teknologi digital dan memperkuat berbagai sarana penunjangnya.

"Transformasi digital sudah lama didengungkan bahkan sebelum krisis Covid-19 terjadi. Transformasi ini telah menjadi kenyataan dalam banyak kasus, dan menjadi keharusan bagi semua," kata Kevin.

"Pebisnis di seluruh dunia telah beradaptasi dengan pandemi. Bagi mereka yang masih berpikir dan berharap segalanya akan kembali seperti semula, berhentilah. Lebih baik menerima kenyataan bahwa masa depan tidak akan sama lagi, mulailah berpikir bagaimana menghadapi itu semua," pungkas Kevin.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mengusung Pilkada yang Sehat dan Berkualitas