Pasca Pemindahan Ibu Kota, Rio de Janeiro Kian Padat dan Dinamis

Setelah status Ibu kota-nya dicopot, Rio de Janeiro mengalami pembengkakan populasi. Kehidupan di sana juga makin dinamis, dan Rio kini tumbuh menjadi kota yang diakui dunia.

INTERNASIONAL , BERITA

Selasa, 07 Mei 2019 16:35 WIB

Author

Adi Ahdiat

Pasca Pemindahan Ibu Kota, Rio de Janeiro Kian Padat dan Dinamis

Pemandangan kota Rio de Janeiro, mantan Ibu kota negara Brasil (Foto: Wikimedia Commons/Rafael Defavari).

Sejak tahun 1822 Rio de Janeiro sudah menjadi Ibu kota negara Brasil. Tapi, status istimewa itu tak bertahan selamanya.

Pada tahun 1960 Brasil memindahkan Ibu kotanya ke Brasilia, dengan alasan Rio de Janeiro sudah terlalu padat.

Untungnya, ditinggal pemerintah pusat tak lantas membuat kehidupan di kota Rio surut.

Menurut data Wendell Cox, seorang profesor dan analis kebijakan perkotaan, Rio de Janeiro justru mengalami pertumbuhan populasi pasca pemindahan Ibu kota.


Rio de Janeiro Kian Padat

Wendell Cox mengungkapkan, pada tahun 1950 Rio de Janeiro hanya dihuni oleh sekitar 3 juta orang.

Setelah status Ibu kota-nya dicopot, populasi Rio kemudian terus membengkak hingga mencapai sekitar 12 juta orang pada tahun 2019.

Menurut catatan Kersten Knipp, jurnalis asal Jerman, pembengkakan populasi Rio de Janeiro salah satunya disebabkan oleh peningkatan urbanisasi.

Setelah tidak berstatus sebagai Ibu kota, arus kedatangan warga miskin ke Rio makin tidak terkontrol.

Seiring dengan itu, berkembang pula masalah sosial-ekonomi seperti kelangkaan tempat tinggal, pertumbuhan jumlah kawasan kumuh, hingga tingginya angka kriminalitas.

Kersten Knipp juga mencatat, kondisi kawasan kumuh di Rio baru mulai menunjukkan perbaikan pada tahun 2000-an, yakni sekitar 40 tahun pasca pencabutan statusnya sebagai Ibu kota negara Brazil.


Rio de Janeiro Kian Dinamis

Selain kian padat, kehidupan kota Rio pasca pemindahan Ibu kota juga semakin dinamis.

Laura Holt, jurnalis National Geographic, bahkan pernah menyebut Rio de Janeiro sebagai kota yang flamboyan, kota tempat berpesta yang penuh dengan energi.

Tahun 2016 Rio de Janeiro menjadi kota pertama di daratan Amerika Selatan yang berperan sebagai tuan rumah Olimpiade.

Tahun 2017 kota Rio dinobatkan sebagai World Heritage Site atau Situs Warisan Dunia UNESCO.

Tahun 2019 Rio juga didaulat sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia oleh UNESCO.

Dengan status tersebut, di waktu-waktu mendatang Rio de Janeiro akan menjadi tuan rumah untuk berbagai acara internasional yang terkait kebudayaan, tata kota, dan arsitektur.

UNESCO juga menjadikan Rio de Janeiro sebagai tempat mempromosikan Sustainable Development Goals tahun 2030, yang mendorong negara-negara dunia agar membangun kota inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan.

Meski tak lagi berstatus sebagai Ibu kota negara, kini Rio de Janeiro telah tumbuh menjadi kota yang diakui di skala dunia.

Pertanyaannya, akankah Jakarta bernasib sama?

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.