Perbatasan Thailand dan Burma Jadi Kawasan Transaksi Narkoba

KBR

INTERNASIONAL

Jumat, 23 Mei 2014 07:48 WIB

Author

VoA

Perbatasan Thailand dan Burma Jadi Kawasan Transaksi Narkoba

thailand, bangkok, kerusuhan, burma

KBR – Perbatasan Thailand dan Burma (Myanmar) menjadi salah satu kawasan rawan perdagangan narkoba di Asia Tenggara. Ini disebabkan dua negara itu membuat kebijakan perdagangan bebas dengan pengurangan pajak.

Direktur Dewan Pengendalian Narkoba Wilayah Lima Suchip Kotcharin mencatat strategi perdagangan terbuka itu bisa terus meningkatnya perdagangan narkoba.

Ini terbukti di tahun 2008 pemerintah Thailand menyita amfetamin. Jumlah penyitaan ini terus naik empat kali lipat sejak 2008. Itu menurut laporan yang baru dirilis PBB mengenai perdagangan global obat-obatan sintetis.

“Di Thailand kami khawatir akan pembukaan perbatasan karena itu akan meningkatkan masuknya buruh dan bisnis ilegal, terutama penyelundupan narkoba yang akan menjadi masalah besar karena narkoba diselundupkan melalui  dan ke negara-negara lain di Asia Tenggara,” kata Kotcharin.

Kotcharin  menyebutkan penyelundupan narkoba bukan hal baru di kawasan yang disebut Segitiga Emas. Di sana produksi serta transportasi opium dan amfetamin marak selama 8 tahun terakhir.

“Sejak 2011, pemerintah berupaya merayu banyak kelompok pemberontak dan berbagai kelompok bersenjata agar kembali ke masyarakat, yang pada dasarnya adalah usaha untuk menetralisir mereka sebagai ancaman potensial bagi pemerintah pusat. Tetapi untuk melakukannya, mereka harus menawarkan suatu imbalan,” jelas Kotcharin.

PBB memberi masukan, pemerintah setempat  harus merangkul para etnis Burma. Mereka harus diberikan kerja. Sebab pengangguran sangat tinggi.

Pendiri Kantor Berita Shan Herald Kuensai Jaiyen mengatakan satu-satunya cara untuk mengurangi produksi narkoba adalah dengan mengakhiri konflik antar etnis di sana. Lainnya dengan membuka lapangan kerja kerja.

“Tantangan terbesar tentunya adalah menciptakan perdamaian dan aturan hukum dulu. Dan untuk meraih perdamaian, harus ada kesepakatan politik. Namun, kita harus memperhitungkan bahwa perdamaiannya tidak boleh dipaksakan,” papar Jaiyen.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Stephanie: Mengubah Stigma Menjadi Empati