PBB: Mers Masalah Serius, Tapi Belum Darurat

KBR - Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan virus sindrom penyakit pernapasan Timur Tengah (Middle East Respiratory Syndrome/ MERS) merupakan masalah serius. Tapi belum bisa dianggap mencapai tingkat darurat dalam kesehatan masyarakat.

INTERNASIONAL

Kamis, 22 Mei 2014 08:18 WIB

Author

VoA

PBB: Mers Masalah Serius, Tapi Belum Darurat

PBB, mers, timur tengah

KBR - Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan virus sindrom penyakit pernapasan Timur Tengah (Middle East Respiratory Syndrome/ MERS) merupakan masalah serius. Tapi belum  bisa dianggap  mencapai tingkat darurat dalam kesehatan masyarakat. 

Komite darurat WHO setuju bahwa peningkatan tajam dalam jumlah penderita MERS sejak bulan Maret adalah masalah serius. Tetapi asisten Direktur Jenderal WHO Keiji Fukuda mengatakan komite tersebut telah meninjau informasi yang tersedia dan memutuskan bahwa virus itu belum merupakan masalah kesehatan darurat bagi masyarakat.

“Kami memang melihat lebih banyak penderita, tapi kami tidak melihat peningkatan bukti adanya penularan dari manusia ke manusia. Dan itulah alasan utama mengapa kami mengatakan keadaan ini tidak belum masuk dalam kriteria masalah kesehatan darurat  dan menjadi kekhawatiran internasional saat ini,” katanya.

Penderita terbaru MERS telah terdapat di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Sebagian besar penderita kini berada di rumah sakit. 

Sebuah misi WHO baru-baru ini mengunjungi rumah sakit di Arab Saudi dan mendapati praktik layanan kesehatan di fasilitas-fasilitas tersebut berada di bawah standar, karena banyaknya pasien di bangsal-bangsal gawat darurat. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan penularan yang lebih luas.

Komite itu merekomendasikan praktek-praktek pencegahan dan pengendalian cepat, dan penelitian lebih jauh untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko untuk membantu memerangi penyebaran penyakit itu.

Rekomendasi lain adalah memberikan dukungan pada negara-negara rentan.  Dr Fukuda mengatakan kepada VOA, bahwa sub-Sahara Afrika terutama rentan.

“Kita tahu di banyak negara itu, tingkat pengawasan relatif rendah. Di negara-negara itu kapasitas layanan kesehatan rendah dibandingkan negara-negara lain. Namun, ini juga adalah negara-negara yang banyak mengirim peziarah ke Arab Saudi. Jadi, ada kombinasi beberapa faktor di sini,” jelasnya.

Di antara 500 penderita penyakit MERS yang dikukuhkan, sebagiannya ditemukan di Asia, Eropa dan Amerika. Semua terkena virus penyakit di Timur Tengah. Fukuda mengatakan tidak ada bukti bahwa penularan ini terus meluas.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

AstraZeneca Bakal Gelar Uji Klinis Global Tambahan

Eps12. Masa Depan Restorasi Gambut

Kabar Baru Jam 7

Menyoal Mekanisme Baru Pencairan Dana Bantuan Operasional Sekolah

Bupati Banyumas Larang Hajatan Meski Diprotes