covid-19

Studi: Pernikahan Lebih Membuat Bahagia Daripada Agama

Sebuah studi yang diselenggarakan Kantor Statistik Nasional (ONS) menemukan bahwa menikah adalah 20 kali lebih penting untuk kesejahteraan seseorang dibanding penghasilan yang tinggi dan 13 kali lebih penting daripada memiliki rumah.

INTERNASIONAL

Jumat, 31 Mei 2013 16:31 WIB

Studi: Pernikahan Lebih Membuat Bahagia Daripada Agama

Inggris, studi pernikahan, agama, heru hendratmoko

Pernikahan ternyata membuat orang merasa lebih bahagia daripada keyakinan terhadap agama, gaji tinggi atau memiliki anak. Sebuah studi yang diselenggarakan Kantor Statistik Nasional (ONS) menemukan bahwa menikah adalah 20 kali lebih penting untuk kesejahteraan seseorang dibanding penghasilan yang tinggi dan 13 kali lebih penting daripada memiliki rumah.

Studi itu juga menunjukkan bahwa memiliki anak hampir tidak berdampak pada hari-hari kebahagiaan seseorang, meskipun tidak membuat mereka merasa hidup lebih "berharga".

Analisis ONS ini didasarkan pada survei terhadap 165.000 orang, di mana mereka diminta untuk menilai hidup mereka dalam empat bidang: kepuasan dengan kehidupan, seberapa berharga hidup mereka, seberapa besar kebahagiaan yang mereka rasakan dan seberapa cemas kehidupan mereka.

Untuk pertama kalinya, ONS telah mampu menggunakan data statistik untuk memeringkat faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan. Kesehatan dan pekerjaan adalah dua faktor yang paling penting, sementara perkawinan atau kemitraan sipil berada pada urutan berikutnya.

Pada skala 0 sampai 10, orang yang menikah rata-rata memiliki 0,14 poin lebih bahagia dari pasangan yang tak menikah, 0,3 poin lebih bahagia daripada bujangan dan 0,4 poin lebih bahagia daripada mereka yang bercerai atau berpisah.

Studi ini berlangsung di Inggris. Entah apakah berlaku juga bagi orang-orang Indonesia.

(The Telegraph)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona