Eijkman akan Gunakan Plasma Darah Untuk Sembuhkan Pasien Covid-19

"Namanya plasma convalescent, yang diambil kira-kira 2 sampai 4 minggu setelah mereka sembuh."

BERITA | INTERNASIONAL

Kamis, 16 Apr 2020 09:45 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Eijkman  akan Gunakan Plasma Darah Untuk Sembuhkan Pasien Covid-19

Petugas medis menyiapkan racikan obat tradisional Cina untuk pasien Covid-19 di sebuah apotek di Wuhan, Cina (2/3/2020). (Foto: ANTARA/REUTERS)

KBR, Jakarta-   Lembaga Biologi Molekuler Eijkman akan mengembangkan metode pengelolaan plasma darah untuk mengobati pasien yang terinfeksi Covid-19. Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan, plasma darah yang digunakan diambil dari pasien Covid-19 yang  dinyatakan sembuh.

"Namanya plasma convalescent, yang diambil kira-kira 2 sampai 4 minggu setelah mereka sembuh. Dan plasma itu mengandung antibodi yang sangat baik untuk bisa menetralisir virus, dan ini diharapkan akan bisa membantu mereka yang sedang dalam perjuangan antara mati dan hidup, (yaitu) pasien-pasien yang dalam kondisi berat," jelas Amin saat penandatanganan kerja sama dengan PMI di Markas Pusat PMI, Jakarta, Selasa (15/4/2020).

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan, pasien Covid-19 yang dalam kondisi parah, jumlah virus dalam tubuhnya cenderung banyak. Namun di saat bersamaan, tubuh pasien belum memiliki antibodi untuk melawan virus tersebut.

Saat ini kata Amin, belum tersedia vaksin untuk menyembuhkan atau melawan virus tersebut. Untuk itu menurutnya, langkah yang bisa ditempuh sembari menunggu adanya vaksi yakni dengan menggunakan zat antibodi dari pasien yang sudah sembuh.

Antibodi itu diharapkan bisa ikut menetralisir virus corona hingga pasien dinyatakan sembuh.

"Jadi kami menggunakan zat antibodi yang sudah ada di dalam plasma pasien yang sudah sembuh itu untuk ikut memerangi virus yang ada di dalam pasien-pasien yang sedang sakit. Diharapkan jumlah virus akan menurun karena akan dinetralisir oleh antibodi tadi," jelasnya.

Eijkman akan bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam penyediaan plasma. Kata dia, PMI lah yang memiliki alat dan wewenang untuk  itu.

"Tentunya ini harus dilindungi juga dengan perlindungan etik, persetujuan pasien, dan sebagainya. Sehingga nanti plasma ini setelah diproses, setelah dipastikan bebas dari virus dan sebagainya, akan bisa diberikan kepada pasien," kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum PMI Jusuf Kalla memastikan, organisasinya akan mendukung penuh langkah Eijkman.

"Kerja Eijkman dengan PMI karena salah satu cara untuk pengobatan (Covid-19)," ujar JK, sapaan karibnya.  

Metode Cina

Saat ini Cina menjadi negara dengan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 tertinggi di dunia.

Menurut data Johns Hopkins University, sampai Rabu (1/4/2020) Cina memiliki 82.294 kasus positif, dengan 76.206 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh. Artinya, tingkat kesembuhan Covid-19 di Cina pada akhir Maret lalu sudah mencapai sekitar 92 persen.

Angka itu amat jauh melampaui tingkat kesembuhan di negara-negara lain, seperti:

  • Korea Selatan: 56 persen
  • Jerman: 22 persen
  • Spanyol: 20 persen
  • Italia: 14 persen
  • Amerika Serikat: 3 persen

Setelah 'sukses' melawan wabah Covid-19 di negerinya, kini Cina pun berkomitmen mengerahkan kekuatannya untuk membantu negara lain.

Komitmen itu ditegaskan Letnan Jenderal He Lei, perwakilan Akademi Sains Militer Cina, dalam siaran pers di media milik Partai Komunis Cina Global Times  (28/3/2020).

"Perjuangan Cina melawan pandemi terus berlanjut, (Cina) membantu hampir 100 negara dan organisasi internasional seperti Jepang, Korea Selatan, Italia, dan Uni Eropa dengan peralatan, teknologi, dan ahli-ahli medis yang diperlukan untuk mengontrol pandemi," kata He Lei.

"Dukungan yang diberikan Cina ini menunjukkan tanggung jawab sebuah negara besar," tukasnya.


Ilmuwan Cina Bagikan Resep Pengobatan Covid-19

Sejalan dengan komitmen tadi, Cina kini sudah membagikan resep pengobatan mereka kepada dunia lewat konferensi video internasional yang disiarkan China Global Television Network (CGTN), Minggu (29/3/2020).

Dalam konferensi itu, tim ahli medis Cina menjelaskan bahwa mereka menangani pasien Covid-19 dengan memadukan 'pengobatan Barat' (western medicine) dan obat tradisional Cina. Siaran lengkapnya bisa dilihat di kanal Youtube CGTN.

Keunggulan obat tradisional Cina juga dijelaskan lebih lanjut oleh Tan Xudong, peneliti dari Akademi Sains Medis Cina di China Daily, Rabu (1/4/2020).

"Meski obat tradisional Cina tidak efisien dalam menonaktifkan virus Korona baru, obat ini meningkatkan imun tubuh manusia dan mengurangi peradangan (akibat Covid-19)," jelas Xudong. 

"Efek klinis menunjukkan bahwa obat tradisional Cina efektif untuk pasien Covid-19 dengan gejala ringan dan sedang, seperti demam, batuk, dan nyeri tubuh."

"Untuk pasien (Covid-19) parah yang mengalami hipoksia (kekurangan oksigen), obat tradisional Cina juga mampu meredakan gejala-gejalanya, seperti demam, batuk, dan sesak napas," tukasnya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

PSA Idulfitri 2020

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan 2020