Tak Semua Teroris Berkelompok, Ada Juga yang Penyendiri

Bukan hanya penganut agama tertentu, pemerintah dan masyarakat sipil juga bisa menjadi korban dari “kegilaan” mereka.

BERITA , INTERNASIONAL

Jumat, 26 Apr 2019 16:34 WIB

Author

Adi Ahdiat

Tak Semua Teroris Berkelompok, Ada Juga yang Penyendiri

Ilustrasi (Foto: Pixabay).

Semua teroris punya satu kesamaan: mereka merusak perdamaian, menimbulkan kehancuran, serta membawa tragedi bagi banyak orang.

Tapi kalau dilihat dari pola pergerakannya, mereka bisa dibedakan menjadi dua jenis, yakni teroris kelompok dan teroris penyendiri (lone wolf terrorist).

Hal ini dijelaskan Muhammad Subhan dalam kajian berjudul Pergeseran Orientasi Gerakan Terorisme Islam di Indonesia (Journal of International Relations Vol. 2, 2016). Berikut paparan singkatnya.


Teroris Kelompok: Dikendalikan Organisasi

Menurut Subhan (2016) teroris tipe kelompok umumnya lahir dari proses perekrutan, indoktrinasi, serta pelatihan yang sistematis. Mereka dikendalikan oleh organisasi yang berisi banyak anggota dan punya jaringan besar.

Salah satu contoh yang terkenal adalah Al-Qaeda. Kelompok yang mengatasnamakan Islam ini mengklaim telah mendalangi serangan bom 9/11 yang menewaskan sekitar 3.000 orang di Amerika Serikat.

Al-Qaeda juga dikabarkan terhubung dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI), yang dituding sebagai dalang peristiwa Bom Bali dan delapan kasus serangan bom lain di Indonesia sepanjang tahun 2000 – 2009.

Menurut wawancara Subhan (2016) dengan mantan teroris, para anggota JI sudah menerima pendidikan militer dan strategi perang dari alumni perang Afghanistan.

Dalam satu dekade belakangan, teroris jenis ini kerap memanfaatkan atribut agama dalam aksi-aksi mereka.


Teroris Penyendiri: Beraksi Tanpa Komando

Tapi tidak semua teroris suka berkelompok. Menurut catatan Subhan (2016), setidaknya sejak tahun 2010 mulai muncul yang namanya lonewolf terrorist atau teroris penyendiri.

Teroris jenis ini bergerak secara individu, bukan merupakan bagian dari kelompok atau jaringan besar, serta melancarkan aksi tanpa komando dari pihak lain.

Di Indonesia, lone wolf macam ini pernah melakukan aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon (15/4/2011), mengakibatkan 25 orang luka-luka.

Kasus serupa pernah terjadi pula di Masjid Mapolresta Poso (3/5/2013). Untungnya kali itu tidak ada korban yang jatuh, kecuali tubuh si pelaku sendiri yang meledak.

Baru-baru ini lone wolf terrorist juga muncul di Selandia Baru. Ia melakukan penembakan membabi buta di sebuah masjid, saat sekelompok muslim sedang melakukan ibadah Jumat.

Menurut Subhan (2016), aksi teroris penyendiri bersifat lebih sporadis. Mereka tidak selalu memanfaatkan atribut agama dalam aksi-aksinya.

Target serangan mereka juga meluas. Bukan hanya penganut agama tertentu, aparat pemerintah dan masyarakat sipil juga bisa menjadi korban dari “kegilaan” mereka.

(Sumber: Pergeseran Orientasi Gerakan Terorisme Islam di Indonesia, Journal of International relations Vol. 2, 2016)

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.