Dianggap Picu Polusi, Beijing Bakal Tertibkan Penjual Kebab

Mulai 1 Mei, pemerintah kota Beijing, Tiongkok akan menertibkan pedagang sate dan kebab yang marak di pinggir-pingir jalan. Para pedagang itu dianggap telah ikut menyumbang tingginya polusi udara di kota itu.

INTERNASIONAL

Rabu, 30 Apr 2014 17:20 WIB

Author

Antonius Eko

Dianggap Picu Polusi, Beijing Bakal Tertibkan Penjual Kebab

beijing, polusi

Mulai 1 Mei, pemerintah kota Beijing, Tiongkok akan menertibkan pedagang sate dan kebab yang marak di pinggir-pingir jalan. Para pedagang itu dianggap telah ikut menyumbang tingginya polusi udara di kota itu. 


Sepanjang musim panas ini, banyak warga berkumpul di kios-kios pinggir jalan untuk menikmati jajanan daging panggang dan minum bir. Namun larangan ini bakal membawa dampak yang besar bagi para pedagang. 


Aturan baru ini tak hanya menyasar para pedagang tapi juga konsumen. Pemerintah kota beralasan aturan ini untuk menjamin keamanan makanan yang dijual di pinggir jalan dan mengontrol asap hasil pembakaran daging. 


Makanan-makan yang terkenal di Beijing, seperti salad bawang dan ketimun serta kulit tahu dingin tak akan lagi dijual di pinggir jalan. Semua kegiatan memanggang daging domba, sapi dan sayap ayam serta sayur-sayuran harus dipindah ke dalam restoran. 


Meningkatnya perekonomian Tiongkok berdampak buruk pada kondisi lingkungan negara itu. Polusi menjadi sumber utama ketidakpuasan warga. Pemerintah sudah mencanangkan penanganan polusi menjadi salah satu prioritas utama. 


Soal keamanan makanan, dari bahaya penggunaan minyak goreng yang berulang-ulang, juga menjadi perhatian utama pemerintah. 


Meski demikian, banyak pihak yang mengecam pernyataan pemerintah yang menyebut kegiatan para pedagang makanan itu memberi kontribusi yang besar pada polusi udara di negara Tirai Bambu tersebut. 


Menurut mereka, polusi di Tiongkok dipicu oleh kerusakan lingkungan, asap industri dan penggunakan kendaraan. “Apa gunanya melarang warga Beijing memakan salad timun di luar?’ tulis sejumlah warga di media sosial. (VOA) 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Belajar dari Lonjakan Kasus di India

Kabar Baru Jam 7

Gua Hira dan Cahaya Semesta

Kabar Baru Jam 8

Menyoal Tenggelamnya Kapal Selam dan Upaya Modernisasi Alutsista