MIT Ciptakan Ventilator Murah, Desain Mesin Dibuka untuk Publik

“Kami mendorong para insinyur klinik untuk bekerja (memproduksi ventilator) dengan sumber daya lokal mereka, dengan mengikuti spesifikasi utama dan informasi keselamatan.”

BERITA | NASIONAL | INTERNASIONAL

Selasa, 31 Mar 2020 14:03 WIB

Author

Adi Ahdiat

MIT Ciptakan Ventilator Murah, Desain Mesin Dibuka untuk Publik

Ventilator darurat rancangan ilmuwan MIT. Alat ini diklaim bisa diproduksi dengan teknologi sederhana dan ongkos murah. (Foto: www.mit.news.edu/MIT E-Vent)

KBR, Jakarta - Saat ini negara-negara yang dilanda pandemi sedang kekurangan ventilator, alat bantu pernapasan untuk pasien Covid-19 yang kondisinya kritis.

Amerika Serikat (AS) misalnya. Sampai Senin (30/3/2020) AS hanya punya sekitar 17.000 unit ventilator. Padahal, kebutuhan mereka diperkirakan mencapai hingga ratusan ribu unit.

Karena produksinya sulit, ventilator pun dijual dengan harga mahal. Harga ventilator saat ini diperkirakan bisa mencapai US$30.000 atau sekitar Rp490 juta per unitnya.


MIT Bagikan Rancangan Ventilator Murah

Untuk mengatasi krisis ventilator akibat pandemi Covid-19, tim ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menciptakan alat bantu pernapasan model baru yang dinamakan E-Vent (Emergency-Ventilator).

MIT mengklaim E-Vent bisa diproduksi dengan teknologi sederhana dan ongkos sangat murah, yakni sekitar US$500 atau Rp8 juta per unit.

MIT pun membuka desain dan spesifikasi ventilator mereka agar bisa diakses publik.

"Kami merilis materi ini (desain E-Vent) untuk membantu pihak-pihak lain supaya mereka mampu memproduksi ventilator, dengan tetap menjamin keselamatan pasien," jelas perwakilan MIT di situsnya.

“Kami mendorong para insinyur klinik untuk bekerja (memproduksi ventilator) dengan sumber daya lokal mereka, dengan mengikuti spesifikasi utama dan informasi keselamatan,” tambah mereka.

Kendati rancangan ventilator darurat ini sudah dibuka untuk publik, MIT mengaku belum mendapat persetujuan dari pihak berwenang.

"Saat ini kami masih menunggu respon dari FDA (badan pengawas obat-obatan dan alat medis Amerika Serikat). Bagaimanapun proses ini memakan waktu," jelas mereka di situsnya, Kamis (26/3/2020).


Bagaimana Ketersediaan Ventilator di Indonesia?

Rektor Universitas Hasanuddin Dwia Aries Tina mengungkapkan Indonesia hanya punya sedikit ventilator. Padahal, ia menegaskan alat itu sangat dibutuhkan untuk menangani pasien Covid-19.

“Saya dapat laporan, kita ternyata memiliki ventilator yang sangat terbatas. Padahal, kalau terjadi outbreak, pasien (Covid-19) akan melonjak tajam, kita harus siap," kata Dwia kepada Antara, Sabtu (28/3/2020).

Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Perindustrian RI sudah meminta industri otomotif lokal agar memproduksi ventilator.

Namun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengaku kesulitan memenuhi permintaan tersebut.

"Ventilator ini tidak bisa sembarangan. Kami tidak punya pengalaman dan keahlian. Tapi mungkin kalau kami disuruh buat tempat tidur rumah sakit kami lebih berani, karena kalau misalnya tidak presisi ya tidak apa-apa. Kalau ini (ventilator) alat medis harus presisi dan sebagainya," kata Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi kepada CNN Indonesia, Senin (30/3/2020).

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Viral Video Lantunan Lagu Idulfitri dari Umat Katolik

Kasus Covid-19 di Kota Jayapura Diprediksi Terus Meningkat

Cina Pakai Drone 5G Pantau Kualitas Lingkungan Taman di Beijing

Kabar Baru Jam 8