Kenapa Perlu Ada “Hari Air Sedunia”?

Ada miliaran orang di seluruh dunia yang belum mendapat akses air bersih. Di Indonesia sendiri, masih ada jutaan orang yang terpaksa mengonsumsi air kotor.

RUANG PUBLIK , BERITA , INTERNASIONAL

Jumat, 22 Mar 2019 17:53 WIB

Author

Adi Ahdiat

Kenapa Perlu Ada “Hari Air Sedunia”?

Ilustrasi.

Saat ini ada miliaran orang di seluruh dunia yang belum mendapat akses sanitasi dan air bersih.

Di Indonesia sendiri, menurut data terakhir BPS layanan air minum yang layak (safe water) baru mencapai 72 persen. Artinya, masih ada jutaan warga Indonesia yang terpaksa mengonsumsi air kotor.

Fenomena krisis air bersih memang sudah terjadi sejak berdekade-dekade lalu di berbagai negara.

Karena itu, sejak tahun 1992 PBB menetapkan tanggal 22 Maret sebagai “Hari Air Sedunia”. Sekedar untuk mengingat nasib saudara-saudara kita yang hak dasarnya akan air belum dipenuhi oleh negara.


Baca Juga:

Krisis Air Meluas, Situbondo Berlakukan Siaga Darurat Kekeringan 

Dampak Kekeringan di Banyumas Meluas, BPBD Kesulitan Siapkan Pasokan Air 


Hari Air Sedunia 2019

Di Hari Air Sedunia tahun ini, PBB mengangkat tema “Leaving no one behind” atau “Jangan Tinggalkan Siapapun”.

Tema itu terkait dengan Sustainable Development Goal 6 (SDG 6) yang menargetkan agar negara-negara anggota PBB bisa menjamin air bersih bagi seluruh warganya pada tahun 2030 mendatang.

Di Hari Air Sedunia ini PBB juga menyampaikan sejumlah data terkait kondisi krisis air yang terjadi di skala global. Berikut rinciannya:

• 2,1 miliar orang hidup tanpa air bersih di rumahnya

• Satu dari empat sekolah dasar di seluruh dunia tidak menyediakan layanan air minum

• Lebih dari 700 balita meninggal setiap hari karena diare, penyebabnya adalah konsumsi air kotor dan sanitasi yang buruk

• Secara global, 80% orang yang tidak punya akses air bersih hidup di pedesaan

• Sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air selama minimal satu bulan tiap tahunnya

• Kehidupan 700 juta orang di seluruh dunia terancam akibat kelangkaan air parah yang diperkirakan terjadi tahun 2030

• Orang-orang kaya umumnya menerima layanan sanitasi dan air bersih dengan harga murah, sementara orang miskin harus membayar mahal untuk layanan dengan kualitas sama atau bahkan lebih rendah

 

Apa yang Harus Dilakukan?

Menurut PBB, berbagai masalah tersebut hanya bisa diselesaikan lewat perbaikan kebijakan publik.

Negara harus didorong untuk terus memperbaiki berbagai regulasi terkait distribusi air bersih.

Negara juga harus didorong untuk memberi perhatian lebih pada kelompok yang terpinggirkan seperti perempuan, anak-anak, pengungsi, masyarakat adat, disabilitas, serta masyarakat ekonomi lemah yang kerap terdiskriminasi.

(Sumber: World Water Day 2019 Factsheet; www.worldwaterday.org) 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.