Unjuk Rasa Mulai Ganggu Perekonomian Thailand

Gelombang protes menentang pemerintahan sementara Thailand tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, terutama setelah pengadilan menetapkan bahwa pihak berwenang tidak dapat menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstran.

INTERNASIONAL

Jumat, 21 Feb 2014 09:02 WIB

Author

Zulfian Bakar

Unjuk Rasa Mulai Ganggu Perekonomian Thailand

thailand, unjuk rasa, Yingluck Shinawatra

KBR68H, Washington - Gelombang protes menentang pemerintahan sementara Thailand tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, terutama setelah pengadilan menetapkan bahwa pihak berwenang tidak dapat menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstran. 


Masalah baru bagi Perdana Menteri Yingluck Shinawatra adalah konvoi traktor yang dikemudikan sejumlah petani menuju ibukota. Para petani, yang selama ini menjadi pendukung utamanya, marah karena belum dibayar untuk beras yang dibeli pemerintah lewat subsidi beras.

  

Sementara itu, oposisi utama PM Yingluck mulai menarget sejumlah bisnis yang terkait dengan keluarganya. Para demonstran koalisi antipemerintah diperintahkan agar memboikot produk milik bisnis keluarga Shinawatra.


Kakak Yingluck, miliarder Thaksin Shinawatra, digulingkan sebagai perdana menteri lewat kudeta tahun 2006 dan menghadapi vonis penjara karena korupsi jika ia pulang dari pengasingan di luar negeri.


Demonstrasi selama berbulan-bulan, yang kadangkala mengakibatkan korban jiwa, mulai berdampak buruk pada ekonomi negara itu. Pertumbuhan ekonomi Thailand anjlok tajam dalam kuartal ke-empat tahun lalu dan kemunduran ekonomi diperkirakan akan berlanjut tahun ini akibat gejolak politik itu.


Lembaga pemeringkat kredit Fitch memperingatkan bahwa sistem finansial Thailand semakin berisiko, sementara pemerintah bergelut untuk membayar tunggakan kepada para petani yang berang itu.


Banyak wisatawan, terutama dari Tiongkok dan Jepang, membatalkan kunjungan mereka. Pan, seorang pemilik toko sepatu, mengatakan kebanyakan pembelinya datang dari Singapura dan kini penghasilannya berkurang separuh menjadi sekitar 300 dollar per hari sejak dimulainya kekacauan.


Meski sebuah pengadilan perdata telah menetapkan pihak berwenang tidak boleh menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstran, banyak pemrotes skeptis mereka tidak akan diserang.


Kekhawatiran semakin meningkat diantara pemantau internasional bahwa kebuntuan yang berlarut-larut akan membuat situasi tidak terkendali. 


LSM Human Rights Watch menuduh polisi dan demonstran sama-sama melakukan berbagai pelanggaran hukum yang mengakibatkan korban tewas dan cedera. (VOA) 


Editor: Antonius Eko 




Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Beraksi Sendiri