Studi: Pneumonia Bunuh 11 Juta Anak pada 2030

Penelitian yang dipublikasikan di Hari Pneumonia Dunia (12 November) ini menemukan bahwa 4,1 juta jiwa akan terselamatkan, jika anak-anak divaksinasi, diberikan antibiotik dan nutrisi yang baik.

BERITA , INTERMEZZO

Senin, 12 Nov 2018 09:51 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Studi: Pneumonia Bunuh  11 Juta Anak pada 2030

Dokter mengobati seorang anak di Pantai Gading, di mana pneumonia adalah pembunuh bayi terbesar setelah malaria. (Foto: AFP / Sia Kambou)

KBR - Infeksi peradangan paru-paru yang dapat tertular melalui virus atau bakteri (pneumonia) akan membunuh hampir 11 juta balita pada 2030. Pernyataan ini disampaikan oleh para ahli pada Senin (12/11/2018) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pembunuh balita terbesar di dunia. 

Dilansir dari AFP, di negara maju, infeksi paru-paru menyerang orang tua. Sedangkan di negara berkembang, menyerang anak-anak. Setiap tahunnya,  ratusan ribu orang meninggal yang disebabkan oleh penyakit yang mudah dicegah ini. 

Misalnya, pada 2016, lebih dari 880 ribu anak - terutama yang berusia kurang dari dua tahun - meninggal karena pneumonia. 

Sebuah analisis baru yang dilakukan oleh Johns Hopkins University dan kelompok Save the Children menunjukkan, lebih dari 10,8 juta balita akan meninggal pada akhir dekade berikutnya. 

Laporan itu juga menunjukkan, Nigeria dan India akan mengalami beban tertinggi yaitu 1,7 juta anak-anak akan meninggal. Selain itu, 700 ribu anak-anak di Pakistan, dan 635 ribu anak-anak di Kongo juga akan mengalami nasib serupa.

Namun ada kabar baik. Penelitian yang dipublikasikan di Hari Pneumonia Dunia (12 November) ini menemukan bahwa 4,1 juta jiwa akan terselamatkan, jika anak-anak divaksinasi, diberikan antibiotik dan nutrisi yang baik. Pneumonia dapat diobati, jika penyakit itu teridentifikasi cukup dini dan sistem kekebalan pasien tidak terganggu.

Pnemonia lebih sering menyerang anak-anak karena mereka lemah dan kekurangan gizi. Penyakit ini membunuh lebih banyak bayi di setiap tahunnya daripada malaria, diare dan campak.

"Tidak ada pita merah muda atau pawai untuk radang paru-paru. Tapi siapa pun yang peduli tentang keadilan untuk anak-anak mendapatkan akses ke perawatan kesehatan, pembunuh yang terlupakan ini harus menjadi penyebab utama zaman kita," kata  CEO Save the Children, Kevin Watkins.

Save the Children, yang mengoperasikan program kesehatan di beberapa negara yang paling terdampak oleh penyakit itu, menyerukan harga vaksin pneumonia agar diturunkan secara dramatis.

2030 adalah target waktu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, yang mencakup janji untuk mengakhiri kematian anak yang dapat dicegah.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Polisi Didesak Ungkap Jaringan Perdagangan Orang dengan Modus Pernikahan

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Seperti Apa Peran Perempuan Mendorong Penggunaan Energi Terbarukan?